BLOG MASJID AN NUR , SUNGAI HAJI DORANI, 45300 SUNGAI BESAR, SELANGOR DARUL EHSAN
Sabtu, 7 Ogos 2010
HUKUM SHALAT DI MASJID NABAWI
Oleh : Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari
Setelah membaca pembahasan “Problema Anda” tentang larangan shalat di area pekuburan (termasuk masjid yang dibangun di atas kuburan) dan shalat menghadap kuburan, banyak pembaca setia majalah Asy Syariah yang menanyakan hukum shalat di masjid Nabawi di Madinah mengingat kuburan Rasulullah n berada di dalam masjid.
Alhamdulillah wabihi nasta’in. Permasalahan ini telah dikaji oleh beberapa ulama besar diantaranya Syaikhul Islam, Asy-Syaikh Al-Albani, dan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullahu.
Kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t :“Jika ada yang mengatakan: kita sedang diliputi problem terkait dengan kuburan Rasulullah n yang ada sekarang, karena berada di tengah masjid Nabawi, bagaimana jawabannya? Kami katakan, jawabannya ditinjau dari beberapa sisi sebagai berikut:
1. Masjid tersebut tidak dibangun di atas kuburan, bahkan dibangun pada masa hidup beliau n
2. Nabi n tidak dikuburkan di dalam masjid sehingga dikatakan bahwa ini adalah penguburan orang-orang shalih di dalam masjid, bahkan beliau dikuburkan di dalam rumahnya.1
3. Perbuatan memasukkan rumah-rumah Rasulullah n termasuk rumah ‘Aisyah x ke dalam masjid (ketika perluasan masjid) bukan dengan kesepakatan para shahabat g,, bahkan hal itu terjadi setelah meninggalnya kebanyakan shahabat dan tidak tersisa dari mereka kecuali sedikit, yaitu sekitar tahun 94 H. Dengan demikian berarti hal itu bukan termasuk di antara perkara-perkara yang dibolehkan oleh para shahabat atau yang disepakati oleh mereka. Bahkan sebagian mereka (yang mendapati kejadian itu) mengingkarinya, dan juga diingkari oleh Sa’id bin Al-Musayyib2 dari kalangan tabi’in.
4. Kuburan tersebut tidak dikategorikan berada dalam masjid meskipun setelah perluasan dan dimasukkan di dalamnya, karena kuburan tersebut berada di dalam kamar tersendiri terpisah dari masjid, jadi masjid Nabawi tidak dibangun di atasnya. Oleh karena itu dibuatkan 3 dinding yang mengelilingi kuburan tersebut dan dindingnya dijadikan menyimpang dari arah kiblat yaitu dengan bentuk segitiga, sudutnya ditempatkan pada sudut utara masjid, dimana seseorang yang shalat tidak akan menghadap ke kuburan tersebut karena posisi dindingnya yang menyimpang (dari arah kiblat). (Al Qaulul Mufid ‘ala Kitabittauhid, 1/398-399).
Dengan demikian jelas bagi kita bahwa masjid Nabawi tidak termasuk dalam kategori masjid yang dibangun di atas kuburan yang dilarang shalat di dalamnya. Begitu pula orang yang shalat di dalamnya tidak akan jatuh dalam kategori shalat menghadap ke kuburan yang dilarang, karena bentuk dinding yang mengelilinginya sebagaimana dijelaskan di atas.
Kalaupun seandainya masih tersisa kejanggalan mengingat bahwa bagaimanapun juga kuburan tersebut telah menjadi bagian dari masjid maka jawabannya sebagaimana kata Asy-Syaikh Al-Albani t pada pasal terakhir dari kitabnya yang berjudul Tahdzirus Sajid min Ittikhadzil Quburi Masajid (hal. 133-137): “Kemudian ketahuilah bahwa hukum yang telah lewat3 mencakup seluruh masjid baik yang besar maupun yang kecil, yang lama maupun baru, berdasarkan keumuman dalil-dalil yang ada. Maka tidak diperkecualikan dari larangan shalat di masjid yang ada kuburannya kecuali masjid Nabawi yang agung, karena keutamaannya yang khusus yang tidak didapatkan pada masjid-masjid lain yang dibangun di atas kuburan. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah n:
صَلاَةٌ فِيْ مَسْجِدِي هَذاَ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيْماَ سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ (فَإِنَّهُ أَفْضَلُ)
“Shalat di masjidku ini lebih utama dari seribu shalat di masjid-masjid yang lain kecuali Masjidil Haram, (karena shalat di Masjidil Haram lebih utama).”4
Begitu pula sabda beliau n:
ماَ بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِياَضِ الْجَنَّةِ
“Antara rumahku dan mimbarku merupakan taman dari taman-taman jannah (surga).”5
Serta keutamaan-keutamaan lainnya. Jika demikian, kalau dikatakan bahwa shalat di masjid Nabawi dibenci (terlarang) maka berarti menyamakan masjid Nabawi dengan masjid-masjid lainnya serta meniadakan/menghapuskan keutamaan-keutamaan yang dimilikinya, dan tentu saja sangat nyata bahwa hal ini tidak boleh.
Makna (hukum) ini kami petik dari perkataan Ibnu Taimiyyah yang telah lewat pada hal. 125-126 ketika menjelaskan sebab dibolehkannya melaksanakan shalat yang memiliki sebab pada waktu-waktu terlarang.
Jadi sebagaimana dibolehkan shalat (yang memiliki sebab) pada waktu-waktu yang terlarang dengan alasan bahwa pelarangan dari shalat tersebut berarti menyia-nyiakannya manakala tidak mungkin untuk meraih keutamaannya dikarenakan waktunya akan berlalu6, maka demikian pula shalat di masjid Nabi n. Kemudian saya mendapati Ibnu Taimiyyah menegaskan hukum ini pada kitabnya yang berjudul Al-Jawab Al-Bahir fi Zuril Maqabir (22/1-2): “Shalat di masjid-masjid yang dibangun di atas kuburan terlarang secara mutlak7.
Lain halnya dengan masjid Nabi n karena shalat di dalamnya bernilai seribu shalat (di masjid-masjid lain) dan masjid ini dibangun di atas ketaqwaan, di mana kehormatannya (kemuliaannya) terpelihara pada masa hidup beliau n dan masa Al-Khulafa`ur Rasyidin, sebelum dimasukkannya kamar (rumah) tempat penguburan beliau n sebagai bagian dari masjid. Dan hanyalah sesunggguhnya (perluasan masjid dengan) memasukkan kamar tersebut sebagai bagian dari masjid terjadi setelah berlalunya masa para shahabat.”
1Yaitu di rumah Aisyah x
2Yang dijuluki oleh sebagian ulama sebagai sayyiduttabi’in (pemimpin tabi’in) t
3 Yaitu larangan shalat di masjid yang dibangun di atas kuburan.
4 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim serta yang lainnya dari hadits Abu Hurairah z. Juga diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad dari hadits Ibnu ‘Umar c, dan tambahan yang ada (yaitu yang berada antara 2 tanda kurung) adalah riwayat Ahmad. Kemudian hadits ini diriwayatkan Ahmad dari banyak jalan periwayatan serta memiliki banyak penguat yang semakna dengannya dari beberapa shahabat yang lain. (Hasyiyah (catatan kaki) Tahdzirus Sajid)
5 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, serta yang lainnya dari hadits Abdullah bin Zaid Al-Mazini, dan hadits ini mutawatir sebagaimana kata As-Suyuthi…. (Hasyiyah TahdzirusSajid). Pada hasyiyah kitab tersebut tidak lupa pula Asy-Syaikh Al-Albani t mengingatkan bahwa lafadz (قَبْرِي) sebagai pengganti lafadz (بَيْتِي) dengan makna: “Antara kuburanku dan mimbarku….”, adalah kekeliruan sebagian perawi hadits, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Hazm, Al-Qurthubi, Ibnu Taimiyyah, Al-’Asqalani (yaitu Al-Hafidz Ibnu Hajar -pen) dan yang lainnya.
6 Misalnya seseorang berwudhu pada waktu matahari sudah menguning menjelang terbenam, kalau dia dilarang shalat sunnah wudhu sampai matahari terbenam berarti dia akan kehilangan keutamaan karena waktunya akan berlalu.
7 Yaitu tanpa batasan masjid-masjid tertentu, jadi larangannya mencakup seluruh masjid.
http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=282
Ahad, 25 Julai 2010
HADIS MEMBACA YASIN MALAM JUMAAT
Dicatat oleh : Musa Mohamad
http://hatinurani86.blogspot.com/2009/11/hadis-membaca-yasin-malam-jumaat.html
MATAN HADIS
Di dalam hadis ini terdapat dua masalah iaitu kedua-duanya di dalam sanad hadis yang mana perawi pada sanad hadis ini di hukumkan oleh ulama Rijal sebagaimana berikut :-
Hukum Hadis Ini
Sebagaimana kajian saya dan saya telah melihat beberapa pendapat Ulama yang mengatakan hadis ini, ada yang mengatakan palsu, Matruk dan Dhaif Jiddan. Ringkas daripada saya bahawa hadis ini termasuk di dalam hadis Dhaif yang Mardud ( tertolak beramal dengannya ).
Rabu, 14 Julai 2010
DAHSYATNYA SAKARATUL MAUT
Penulis: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan
Allah subhanahu wata’ala dengan sifat rahmah-Nya yang sempurna, senantiasa memberikan berbagai peringatan dan pelajaran, agar para hamba-Nya yang berbuat kemaksiatan dan kezhaliman bersegera meninggalkannya dan kembali ke jalan Allah subhanahu wata’ala.
Sementara hamba-hamba Allah subhanahu wata’ala yang beriman akan bertambah sempurna keimanannya dengan peringatan dan pelajaran tersebut.
Namun, berbagai peringatan dan pelajaran, baik berupa ayat-ayat kauniyah maupun syar’iyah tadi tidak akan bermanfaat kecuali bagi orang-orang yang beriman.
Allah subhanahu wata’ala berfiman (yang artinya):
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Adz-Dzariyat: 55)
Di antara sekian banyak peringatan dan pelajaran, yang paling berharga adalah tatkala seorang hamba dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan sakaratul maut yang menimpa saudaranya. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَيْسَ الْخَبَرُ كَالْمُعَايَنَةِ
“Tidaklah berita itu seperti melihat langsung.” (HR. At-Tirmidzi dari Abdullah bin Umarradhiyallahu ‘anhu. Lihat Ash-Shahihah no. 135)
Tatkala ajal seorang hamba telah sampai pada waktu yang telah Allah subhanahu wata’ala tentukan, dengan sebab yang Allah subhanahu wata’ala takdirkan, pasti dia akan merasakan dahsyat, ngeri, dan sakit yang luar biasa karena sakaratul maut, kecuali para hamba-Nya yang Allah subhanahu wata’ala istimewakan. Mereka tidak akan merasakan sakaratul maut kecuali sangat ringan. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala (yang artinya):
“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.” (Qaf: 19)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لاَ إِلَهَ إِلاَ اللهُ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ
“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Sesungguhnya kematian ada masa sekaratnya.” (HR. Al-Bukhari)
Allah subhanahu wata’ala dengan rahmah-Nya telah memberitahukan sebagian gambaran sakaratul maut yang akan dirasakan setiap orang, sebagaimana diadakan firman-Nya (yang artinya):
“Maka mengapa ketika nyawa sampai di tenggorokan, padahal kamu ketika itu melihat, sedangkan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah )? Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?” (Al-Waqi’ah: 83-87)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya), ‘Maka ketika nyawa sampai di tenggorokan.’ Hal itu terjadi tatkala sudah dekat waktu dicabutnya.
‘Padahal kamu ketika itu melihat’, dan menyaksikan apa yang ia rasakan karena sakaratul maut itu.
‘Sedangkan Kami (para malaikat) lebih dekat terhadapnya (orang yang akan meninggal tersebut) daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat mereka (para malaikat).’ Maka Allah subhanahu wata’ala menyatakan: Bila kalian tidak menginginkannya, mengapa kalian tidak mengembalikan ruh itu tatkala sudah sampai di tenggorokan dan menempatkannya (kembali) di dalam jasadnya?” (Lihat Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 4/99-100)
Allah subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya):
“Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke tenggorokan, dan dikatakan (kepadanya): ‘Siapakah yang dapat menyembuhkan?’, dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmu lah pada hari itu kamu dihalau.” (Al-Qiyamah: 26-30)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ini adalah berita dari Allah subhanahu wata’ala tentang keadaan orang yang sekarat dan tentang apa yang dia rasakan berupa kengerian serta rasa sakit yang dahsyat (mudah-mudahan Allah subhanahu wata’ala meneguhkan kita dengan ucapan yang teguh, yaitu kalimat tauhid di dunia dan akhirat). Allah subhanahu wata’ala mengabarkan bahwasanya ruh akan dicabut dari jasadnya, hingga tatkala sampai di tenggorokan, ia meminta tabib yang bisa mengobatinya. Siapa yang bisa meruqyah? (Lihat Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim)
Kemudian, keadaan yang dahsyat dan ngeri tersebut disusul oleh keadaan yang lebih dahsyat dan lebih ngeri berikutnya (kecuali bagi orang yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala). Kedua betisnya bertautan, lalu meninggal dunia. Kemudian dibungkus dengan kain kafan (setelah dimandikan). Mulailah manusia mempersiapkan penguburan jasadnya, sedangkan para malaikat mempersiapkan ruhnya untuk dibawa ke langit.
Setiap orang yang beriman akan merasakan kengerian dan sakitnya sakaratul maut sesuai dengan kadar keimanan mereka. Sehingga para Nabi‘alaihimussalam adalah golongan yang paling dahsyat dan pedih tatkala menghadapi sakaratul maut, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ بَلاَءً اْلأَنْبِيَاءُ ثُمَّ اْلأَمْثَلُ فَاْلأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ
“Sesungguhnya manusia yang berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian yang semisalnya. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2398 (2/64), dan Ibnu Majah no. 4023, dan yang selainnya. Lihat Ash-Shahihah no. 143)
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
فَلاَ أَكْرَهُ شِدَّةَ الْمَوْتِ ِلأَحَدٍ أَبَدًا بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Aku tidak takut (menyaksikan) dahsyatnya sakaratul maut pada seseorang setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam .” (HR. Al-Bukhari no. 4446)
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Para ulama mengatakan bahwa bila sakaratul maut ini menimpa para nabi, para rasul ‘alaihimussalam, juga para wali dan orang-orang yang bertakwa, mengapa kita lupa? Mengapa kita tidak bersegera mempersiapkan diri untuk menghadapinya? Allah subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya):
“Katakanlah: ‘Berita itu adalah berita yang besar, yang kamu berpaling darinya’.” (Shad: 67-68)
Apa yang terjadi pada para nabi ‘alaihimussalam berupa pedih dan rasa sakit menghadapi kematian, serta sakaratul maut, memiliki dua faedah:
1. Agar manusia mengetahui kadar sakitnya maut, meskipun hal itu adalah perkara yang tidak nampak. Terkadang, seseorang melihat ada orang yang meninggal tanpa adanya gerakan dan jeritan. Bahkan ia melihat sangat mudah ruhnya keluar. Alhasil, ia pun menyangka bahwa sakaratul maut itu urusan yang mudah. Padahal ia tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya dirasakan oleh orang yang mati. Maka, tatkala diceritakan tentang para nabi yang menghadapi sakit karena sakaratul maut -padahal mereka adalah orang-orang mulia di sisi Allah subhanahu wata’ala, dan Allah subhanahu wata’ala pula yang meringankan sakitnya sakaratul maut pada sebagian hamba-Nya- hal itu akan menunjukkan bahwa dahsyatnya sakaratul maut yang dirasakan dan dialami oleh mayit itu benar-benar terjadi -selain pada orang syahid yang terbunuh di medan jihad-, karena adanya berita dari para nabi ‘alaihimussalam tentang perkara tersebut. (At-Tadzkirah, hal. 25-26)
Al-Imam Al-Qurthubirahimahullah mengisyaratkan kepada hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
مَا يَجِدُ الشَّهِيدُ مِنْ مَشِّ الْقَتْلِ إِلاَّ كَمَا يَجِدُ أَحَدُكُمْ مِنْ مَشِّ الْقُرْصَةِ
“Orang yang mati syahid tidaklah mendapati sakitnya kematian kecuali seperti seseorang yang merasakan sakitnya cubitan atau sengatan.” (HR. At-Tirmidzi no. 1668)
Al-Imam Al-Qurthubirahimahullah melanjutkan:
2. Kadang-kadang terlintas di dalam benak sebagian orang, para nabi adalah orang-orang yang dicintai Allah subhanahu wata’ala. Bagaimana bisa mereka merasakan sakit dan pedihnya perkara ini? Padahal Allah subhanahu wata’ala Maha Kuasa untuk meringankan hal ini dari mereka, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
أَمَّا إِنَّا قَدْ هَوَّنَّا عَلَيْكَ
“Adapun Kami sungguh telah meringankannya atasmu.”
Maka jawabannya adalah:
إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ بَلاَءً فِي الدُّنْيَا اْلأَنْبِيَاءُ ثُمَّ اْلأَمْثَلُ فَاْلأَمْثَلُ
“Sesungguhnya orang yang paling dahsyat ujiannya di dunia adalah para nabi, kemudian yang seperti mereka, kemudian yang seperti mereka.” (Lihat Ash-Shahihah no. 143)
Maka Allah subhanahu wata’ala ingin menguji mereka untuk menyempurnakan keutamaan-keutamaan serta untuk meninggikan derajat mereka di sisi Allahsubhanahu wata’ala. Hal itu bukanlah kekurangan bagi mereka dan bukan pula azab. (At-Tadzkirah, hal. 25-26)
Malaikat yang Bertugas Mencabut Ruh
Allah subhanahu wata’ala dengan kekuasaan yang sempurna menciptakan malakul maut (malaikat pencabut nyawa) yang diberi tugas untuk mencabut ruh-ruh, dan dia memiliki para pembantu sebagaimana firman-Nya subhanahu wata’ala (yang artinya):
“Katakanlah: ‘Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu’ kemudian hanya kepada Rabbmulah kamu akan dikembalikan.” (As-Sajdah: 11)
Asy-Syaikh Abdullah bin ‘Utsman Adz-Dzamari hafizahullah berkata: “Malakul maut adalah satu malaikat yang Allah subhanahu wata’ala beri tugas untuk mencabut arwah para hamba-Nya. Namun tidak ada dalil yang shahih yang menunjukkan bahwa nama malaikat itu adalah Izrail. Nama ini tidak ada dalam Kitab Allah subhanahu wata’ala, juga tidak ada di dalam Hadits-hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala hanya menamainya malakul maut, sebagaimana firman-Nya (yang artinya):. Allah subhanahu wata’ala hanya menamainya malakul maut, sebagaimana firman-Nya (yang artinya):
“Katakanlah: ‘Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu’.” (As-Sajdah: 11)
Ibnu Abil Izzi Al-Hanafi rahimahullah berkata: “Ayat ini tidak bertentangan dengan firman Allah subhanahu wata’ala (yang artinya):
“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan Dialah Pembuat perhitungan yang paling cepat.” (Al-An’am: 61-62)
Karena malakul maut yang bertugas mencabut ruh dan mengeluarkan dari jasadnya, sementara para malaikat rahmat atau para malaikat azab (yang membantunya) yang bertugas membawa ruh tersebut setelah keluar dari jasad. Semua ini terjadi dengan takdir dan perintah Allah subhanahu wata’ala, (maka penyandaran itu sesuai dengan makna dan wewenangnya).” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 602)
Wallahu a’lam bish showab.
Sumber: http://asysyariah.com/print.php?id_online=807
Selasa, 13 Julai 2010
HUKUM WUDHU' YANG MENYENTUH PEREMPUAN
MUQADDIMAH
Dalam siri sebelum ini, secara ringkas para pembaca telah diterangkan berkenaan salah satu bentuk dalam disiplin ilmu taujih qiraat iaitu taujih fiqhi. Para pembaca juga dapat melihat secara umum berkenaan hubungan antara ilmu qiraat dan fiqh Islam serta manhaj fuqaha' ketika berhujah dengan ilmu qiraat.
Pada kali ini penulis cuba membawa ke hadapan para pembaca contoh perbezaan qiraat pada ayat al-Quran yang menjadi dalil kepada para ulama fiqh bagi menetapkan atau mensabitkan mazhab mereka terhadap sesuatu hukum.
HUKUM WUDHU' BAGI YANG MENYENTUH PEREMPUAN
Para ulama fiqh telah berselisih pendapat berkenaan hukum wudhu' bagi lelaki yang menyentuh perempuan. Perbezaan ini berpunca daripada ) pada ayat 43 Surah لامَسْتُم perbezaan qiraat yang terdapat pada kalimah ( al-Nisaa serta ayat 6 Surah al-Maidah. Nas di dalam Surah al-Nisaa ialah;
یَا أَیُّھَا الَّذِینَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِیلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُو ا
وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَیَمَّمُوا صَعِیدًا طَیِّبً ا
فَامْسَحُوا بِوُجُوھِكُمْ وَأَیْدِیكُمْ إِنَّ اللَّھَ كَانَ عَفُ وا غَفُورًا
BACAAN QIRAAT
Bacaan pertama yang diriwayatkan oleh jumhur qurra' iaitu Imam Nafi, Ibnu Kathir, Abu `Amr, Ibnu `Amir, `Asim, Abu Ja'far dan Ya`qub al-Hadhrami; لامَسْتُم.( dengan mengisbatkan alif )
Bacaan kedua yang diriwayatkan oleh Imam Hamzah, al-Kisa'ei dan Khalaf لمَسْتُم.( al-`Asyir; dengan menghazafkan alif )
MAKNA DI SEBALIK PERBEZAAN QIRAAT
) membawa maksud al-Mulamasah لامَسْتُم Bacaan pertama dengan isbat alif ( mengikut wazan al-Mufa`alah yang memberi makna kinayah atau sindiran kepada makna jima' di mana ia menunjukkan perbuatan ini saling berlaku antara dua pihak. Kita akan dapat melihat uslub kinayah ini di dalam al- Quran khasnya apabila menerangkan perihal hubungan suami isteri seperti ayat 223 Surah al-Baqarah. Di sini al-Quran memperlihatkan kepada kita ketinggian akhlak dan adab yang baik. Imam al-Alusi dalam tafsirnya Ruuh al-Ma`ani telah menakalkan kalam Ibnu `Abbas sebagai berkata;
Sesungguhnya Allah Maha Mulia telah mengkinayahkan berkenaan jima' االرفث ، الملامسة المباشرة ، التغشي ، الإفضاء ) ).dengan kalimah ), ia mengandungi dua لمَسْتُم Adapun bacaan kedua dengan membuang alif ( makna. Pertama; segala jenis sentuhan melainkan jima' seperti memegang,
meraba, mencium dan lain-lain yang seerti dengannya. Kedua; ia juga memberi makna jima'.
KESAN PERBEZAAN QIRAAT TERHADAP FIQH
Telah berlaku khilaf di kalangan fuqaha' berkenaan hukum wudhu' adakah ianya terbatal sekiranya menyentuh kulit perempuan. Punca perselisihan ini adalah daripada perbezaan bacaan qiraat mutawatir pada ayat di atas.
Berikut secara ringkas pandangan ulama dalam hal ini;
1) Pandangan Imam Abu Hanifah
Di sisi beliau, perbuatan lelaki menyentuh perempuan tidak sekali-kali membatalkan wudhu' sama ada sentuhan itu disertai dengan syahwat atau pun tidak dan sama ada sentuhan itu terhadap perempuan ajnabi atau pun mahram.
2) Pandangan Imam Malik dan Imam Ahmad
Di sisi mereka pula, sentuhan lelaki terhadap perempuan akan membatalkan wudhu' sekiranya sentuhan itu disertai syahwat. Sekiranya sentuhan itu tidak mengandungi syahwat maka ia tidak membatalkan wudhu'.
3) Pandangan Imam as-Syafi`ei
Di sisi beliau pula, sentuhan lelaki terhadap perempuan tanpa berlapik akan membatalkan wudhu' tanpa mengira ia disertai syahwat atau pun tidak. Akan tetapi hukum ini terkecuali sentuhan kepada mahram.
ASAS KHILAF DI KALANGAN FUQAHA'
Perselisihan pendapat di kalangan fuqaha berdasarkan bacaan qiraat pada ) dapat dilihat daripada beberapa aspek seperti berikut; لامَسْتُم kalimah ( ) itu sendiri. 1لامَسْتُم ) Aspek perbezaan qiraat mutawatir pada kalimah
Terdapat 2 bacaan qiraat pada kalimah ini iaitu; qasr dan mad atau dengan istilah lain; hazaf dan isbat.
Bacaan secara qasr atau hazaf memberi makna bahawa sentuhan samada tangan, sentuhan kulit atau ciuman akan membatalkan wudhu'. Sentuhan ini juga hanya berlaku dari satu pihak.
Bacaan secara mad atau isbat pula memberi makna jima' kerana ia disifatkan sebagai perbuatan saling sentuh menyentuh antara dua pihak. Oleh itu, perbuatan selain jima' yang bersifat sentuhan tidak akan membatalkan wudhu' selagi mana tidak keluar air mani yang mewajibkan
mandi dan wudhu'.
2) Aspek " Isytirak Lafzi " pada makna اللمس al-Lams
Makna hakikat bagi ( al-Lams ) ialah perbuatan melekapkan tangan pada sesuatu dengan tujuan menyentuh. Adapun makna kinayah bagi kalimah ini pula ialah jima'. Seperti mana yang telah dijelaskan sebelum ini, uslub kinayah ini merupakan di antara sekian banyak uslub al-Quran yang memperlihatkan adab dan akhlak khasnya apabila memperkatakan sesuatu yang ada hubungkait dengan perempuan.
Oleh itu, al-Quran tidak secara terang-terangan menggunakan lafaz jima' tetapi memadai dengan lafaz ( al-Lams ) ini. Bahkan realiti bangsa Arab sering menggunakan uslub hakikat (makna hakiki), majaz dan kinayah dalam pertuturan mereka. Kadangkala mereka menggunakan kalimah ( al-Lams ) untuk menunjukkan perbuatan menyentuh dngan tangan, manakala di waktu yang lain mereka menggunakannya sebagai kinayah kepada jima'. Akibat daripada penggunaan ini baik di dalam al-Quran atau pertuturan bangsa Arab, maka berlakulah khilaf di kalangan ulama terhadap hukum ini;
1) Mazhab Hanafi : Sentuhan yang mewajibkan wudhu' adalah sentuhan yang bermaksud jima' sahaja.
2) Mazhab Syafi`ei : Sentuhan yang mewajibkan wudhu' adalah sentuhan yang bermaksud dengan tangan atau kulit. Mereka berdalilkan makna zahir (hakiki) pada ayat tersebut.
3) Mazhab Maliki, Hanbali dan yang sepakat dengan mereka : Sentuhan yang mewajibkan wudhu' adalah sentuhan tangan yang disertai syahwat. Ini disebabkan kerana mereka memandang dari sudut ayat umum yang telah dikhususkan maka mereka mensyaratkan adanya syahwat.
4) Mazhab Ibnu Hazm az-Zohiri : Sentuhan yang mewajibkan wudhu' adalah sentuhan tangan tanpa disertai syahwat. Tetapi sentuhan ini umum terhadap mana-mana perempuan samada mahram atau ajnabi, tua atau muda. Ini disebabkan kerana mereka memandang dari sudut ayat umum yang tetap kekal umum tanpa dikhususkan.
Kesimpulan khilaf ini ialah adakah lafaz yang berdasarkan bacaan hazaf ( al-Lams ) ini membawa makna hakiki iaitu sentuhan tangan atau makna kinayah ? Adakah jima' pula boleh dikira sebagai makna hakiki berdasarkan bacaan isbat ? Oleh itu, ia berkisar antara makna hakiki, majaz dan kinayah.
3) Aspek pada umumnya berlaku bertentangan antara ayat wudhu' dengan beberapa hadis Nabi SAW.
Di sini seolah-seolah secara zahirnya berlaku bersalahan antara makna umum ayat wudhu' dengan hadis Nabi SAW yang terbukti sabit atau sahih dari baginda seperti peristiwa Saidatina `Aisyah memegang kaki Nabi SAW ketika baginda sedang sujud dalam solat di mana baginda mungkin tidak memperbaharui wudhu'nya.
Contoh hadis itu seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (Kitab Solat; Bab apa yang mesti dibaca ketika ruku' dan sujud, hadis no 222/486), Imam at-Turmuzi (Kitab Doa-doa; bab 76, hadis no 3493 ) dan Imam al-Baihaqi (Kitab Toharah; Bab apa yang datang pada orang yang disentuh) :
روي عن عائشة رضي الله عنھا – قالت : فقدت رسول الله صلى الله علیھ وسلم لیلة من الفراش فالتمستھ
فوقعت یدي على بطن قدمیھ وھو في المسجد وھما منصوبتان وھو یقول : اللھم إني أعوذ برضاك من سخطك
وبمعافاتك من عقوبتك وأعوذ بك منك لا أحصي ثناء علیك أنت كما أثنبت على نفسك
Antara hadis lain ialah seperti diriwayatkan oleh Imam an-Nasa'ie (Bab batal wudhu' dengan sebab sentuhan lelaki terhadap perempuan tanpa syahwat berdasarkan sanad al-Qosim dari `Aisyah) :
روي عن عائشة رضي الله عنھا – قالت : كان رسول الله صلى الله علیھ وسلم یصلي وأنا معترضة بین یدیھ
اعتراض الجنازة حتى إذا أراد أن یوتر مسني برجلھ
Oleh itu sebahagian ulama telah menjadikan hadis-hadis sahih ini sebagai dalil untuk menguatkan pandangan mereka berkenaan hukum wudhu' di samping hujah mereka dari al-Quran berdasarkan bacaan qiraat yang mutawatir pada ayat wudhu' di atas.
TARJIH KE ATAS KHILAF YANG ADA
Berdasarkan perbincangan di atas, jelas kepada kita bahawa kedua-dua لامَسْتُم ( bacaan qiraat mutawatir (bacaan isbat dan hazaf) pada kalimah ( pada ayat 43 Surah al-Nisaa serta ayat 6 Surah al-Maidah membawa kepada dua hukum syarak yang berbeza seperti yang diistinbatkan oleh ulama fiqh dalam mazhab mereka berkenaan hukum wudhu'.
Oleh itu, sebahagian ulama telah mentarjih atau memilih pandangan yang menyatakan bahawa sentuhan lelaki terhadap perempuan tanpa syahwat tidak membatalkan wudhu', manakala sentuhan yang disertai syahwat akan membatalkan wudhu'. Pandangan ini merupakan pandangan yang paling sederhana dan paling dekat dengan manhaj Islam iaitu " at-Taisir ".
Pandangan ini juga telah mengambil pendekatan menggabungkan kedua-dua qiraat mutawatir tanpa meninggalkan salah satu daripadanya. Di samping itu, ia juga merupakan pandangan jumhur ulama seperti yang dinyatakan oleh Ketua Ikatan Ulama Syam; Doktor Wahbah az-Zuhayli dalam kitabnya al-Wajiiz Fi al-Fiqh al-Islami.
والله تعالى أعلى وأعلم
Sumber Rujukan:
1) Al-Quran al-Karim
2) Muhadharat Fi Taujih al-Qiraat (Nota kuliah tahun satu); Dr. Abdul Karim
Ibrahim Soleh. Pensyarah Bahagian Tafsir Kuliah Al-Quran & Al-Qiraat Al-
Azhar Tanta
3) Syarah Bidayah al-Mujtahid Wa Nihayah al-Muqtasid; Dr. Abdullah al-
`Abadi. Cetakan Darus Salam Kaherah.
4) Al-Wajiiz Fi Al-Fiqh Al-Islami; Dr. Wahbah az-Zuhayli. Cetakan Darul Fikr
Beirut.
Isnin, 28 Jun 2010
SUNNAH NABI YANG PATUT DILAKUKAN
Sunnah Rasulullah yang perlu diamalkan ialah :
1. Solat Tahajjud
Solat Tahajjud ialah solat apabila terjaga daripada tidur malam. Sebaik-baiknya 1/3 malam yang terakhir iaitu dalam lingkungan jam 3 atau 4 pagi. Jumlah rakaat sekurang-kurangnya 2 rakaat. Di antara fadhilatnya :
1. Mendapat pengawasan Allah dan menampakkan kesan ketaatan di wajahnya.
2. Dikasihi oleh para ahli ibadah dan org mukmin.
3. Percakapannya menjadi hikmah dan bijaksana.
4. Dimudahkan hisab ke atasnya.
5. Mendapat catatan amal dari tangan kanan.
Firman Allah SWT yang bermaksud :
“Dan bangunlah pada sebahagian dari waktu malam serta kerjakanlah "sembahyang tahajjud" padanya, sebagai sembahyang tambahan bagimu; semoga Tuhanmu membangkit dan menempatkanmu pada hari akhirat di tempat Yang Terpuji. (Al-Isra : 79)Membaca Al-Qur'an Sebelum Terbit Matahari
Membaca Al-Quran merupakan salah satu sunnah Rasulullah terutamanya membaca Al-Quran pada waktu sebelum terbitnya matahari. Besar pahala bagi orang yang mebaca Al-Quran dan mentadabbur isinya. Jadikan Al-Quran sebagai panduan hidup dan jangan dijadikan Al-Quran sebagai bacaan bacaan sahaja. Jadikan Al-Quran sebagai bacaan, panduan dan membudayakan Al-Quran dalam setiap perkara dalam kehidupan kita. Firman Allah yang bermaksud :
“Sesungguhnya Al-Quran ini memberi petunjuk ke jalan Yang amat betul (ugama Islam), dan memberikan berita Yang mengembirakan orang-orang Yang beriman Yang mengerjakan amal-amal soleh, Bahawa mereka beroleh pahala Yang besar.” (Al-Isra : 9)
2. Jangan Tinggalkan Masjid
Solat yang lebih baik adalah solat berjamaah di masjid, kerana pahala orang yang solat berjamaah di masjid sangat besar dan pahalanya dikira pada setiap langkahnya ke masjid dan ia juga akan memperolehi pahala berjamaah sebanyak 27 pahala. Hadis Nabi Muhammad SAW yang bermaksud :
"Sungguh, alangkah ingin aku menyuruh (para sahabat) melakukan solat, dan aku suruh seseorang untuk mengimaminya, kemudian aku pergi bersama beberapa orang yang membawa beberapa ikat kayu api menuju (rumah) orang-orang yang tidak ikut solat berjemaah, untuk membakar rumah mereka dengan api."
3. Jaga Solat Dhuha
Solat Sunat Dhuha adalah solat yang yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah kepada umatnya, kerana solat sunat Dhuha ini banyak kelebihannya. Di antara kelebihannya ialah pintu rezeki dibuka dan dimurahkan rezeki. Waktu solat sunat Dhuha ialah dari naik matahari sampai se-penggalah dan berakhir di waktu matahari tergelincir. Rasullullah SAW pernah bersabda yang maksudnya :
“Pada tiap-tiap pagi lazimkanlah atas tiap-tiap ruas anggota seseorang kamu bersedekah; tiap-tiap tahlil satu sedekah, tiap-tiap takbir satu sedekah, menyuruh berbuat baik satu sedekah, dan cukuplah (sebagai ganti) yang demikian itu dengan mengerjakan dua rakaat solat Dhuha .” (Hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
4. Jaga Sedekah
Sedekah ialah seseorang itu mengorbankan sedikit hartanya untuk diberikan kepada orang yang memerlukan dengan hati dan perasaan yang ikhlas kerana Allah. Bagi orang yang rajin bersedekah, Allah akan gandakan setiap sedekahnya dengan rezeki yang melimpah. Firman Allah yang bermaksud :
“Dan jangan sekali-kali orang-orang Yang bakhil Dengan harta benda Yang telah dikurniakan Allah kepada mereka dari kemurahanNya - menyangka Bahawa keadaan bakhilnya itu baik bagi mereka. bahkan ia adalah buruk bagi mereka. mereka akan dikalongkan (diseksa) Dengan apa Yang mereka bakhilkan itu pada hari kiamat kelak. dan bagi Allah jualah hak milik Segala warisan (isi) langit dan bumi. dan (ingatlah), Allah Maha mengetahui Dengan mendalam akan Segala Yang kamu kerjakan. (mukjizat) Yang nyata dan Dengan (korban) Yang katakan, maka membunuh mereka, jika kamu orang-orang Yang benar (dalam apa Yang kamu dakwakan itu)?" (Al-Imran : 180)
5. Jaga Wudhuk Terus Menerus
wudhu adalah salah satu cara untuk menyucikan diri dari hadas kecil. Orang yang menjaga wuduknya akan disayangi oleh Allah. Kata khalifah Ali bin Abu Thalib :
"Orang yang selalu berwudhuk senantiasa ia akan merasa selalu solat walau ia sedang tidak solat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, ampuni dosa dan sayangi dia ya Allah".
6. Istighfar Setiap Masa
Istighfar ialah memohon keampunan dari Allah atas segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan dan berjanji kepada Allah tidak akan mengulangi kesalahan tersebut. Firman Allah yang bermaksud :
“Dan Allah tidak sekali-kali akan menyeksa mereka, sedang Engkau (Wahai Muhammad) ada di antara mereka; dan Allah tidak akan menyeksa mereka sedang mereka beristighfar (meminta ampun).” (Al-Anfal : 33)
Khamis, 24 Jun 2010
PENGENALAN ILMU QIRAAT - SIRI KEDUA
OLEH: USTAZ SHAMSUL HAKIM
A. DALIL TURUN AL QURAN DENGAN 7 HURUF:
B. HIKMAH PENURUNAN AL QURAN DENGAN 7 HURUF
Kemudahan dan keringan ke atas ummat Muhammad bagi membaca Al Quran kerana bangsa Arab yang diturunkan Al Quran kepada mereka lidah mereka berbeza-beza di antara satu sama lain , begitu juga cara sebutan mereka terhadap sesuatu huruf.
C. APAKAH YANG DIMAKSUDKAN DENGAN HURUF YANG 7 ?
Berkata Fadilah Al Syeikh Abdul Fattah Al Qadhi ( pengarang kitab Al Wafi ) yang dipetik dari pandangan Al Imam Abil Fadh Al Razi : “ Yang dimaksudkan dengan huruf yang 7 adalah perubahan dan perbezaan dari 7 perkara:
- Perbezaan dari sudut kata nama sama ada dalam bentuk ifrad ( 1 ) atau at tathniah ( 2 ) atau al jam’ ( 3 ke atas ).
Contoh: { وأحاطت بِهِ خَطِيئَتُهُ } [ البقرة : 1 8 ]
- Perbezaan dari sudut tasrif af’al ( kata perbuatan ) dari fi’il madhi ( yang telah berlalu ) , fi’il mudhari’ ( yang sedang berlaku atau yang akan berlaku ) dan fi’il amr ( perintah ).
Contoh : { وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ النساء} (158)
{ قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ الزخرف} (24)
- Perbezaan wujuh al i’rab ( susun atur perkataan dalam jumlah ).
Contoh :
إِنَّ اللَّهَ لا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا ) [سورة النساء: 40]
- Perbezaan dari segi isbat ( kekalkan ) atau hazaf ( buangkan ).
Contoh :
{وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ - الحديد (24) }
- Perbezaan dari segi mendahulukan satu kalimah atau mengakhirkannya.
Contoh :
وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا – النساء 195
- Perbezaan dari segi ibdal ( menggantikan sesuatu huruf ke tempat sesuatu huruf ).
Contoh :
إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا ) فتثبتوا )
- Perbezaan dari segi lahajat ( cara sebutan ).
Contoh : Al fathu , al imalah , al idgham , al izhar , al taqlil.
- KESAN ILMU QIRAAT TERHADAP ILMU
- Bahasa : Memperlihatkan ketinggian dan kehebatan Bahasa Arab berbanding bahasa yang lain bahawa ia adalah pilihan daripada Allah untuk ummah seluruhnya.
- Ilmu feqh.
- KESIMPULAN
- Pengajian Ilmu Qiraat akan membawa kita melihat akan kebesaran , keagungan serta keluasan ilmu Allah.
- Ilmu qiraat juga menzahirkan akan mukjizat Al Quran.
- Ilmu qiraat menambahkan lagi keimanan kita bahawa Al Quran benar-benar daripada Allah.
Ahad, 20 Jun 2010
PENGENALAN ILMU QIRAAT - SIRI PERTAMA
OLEH: USTAZ SHAMSUL HAKIM
Muqaddimah
Pada permulaan wahyu, Nabi SAW amat menitikberatkan ajaran al-Quran. Para sahabat diberi galakan oleh baginda untuk membaca dan menghafaz ayat al-Quran sehingga melahirkan sejumlah generasi intelektual dan memadamkan buta huruf setelah diselubungi kegelapan jahiliah. Period dakwah di Makkah merupakan marhalah pembentukan aqidah, akhlak dan ruh. Marhalah ini juga dikenali sebagai “Marhalah Al-I’jaz” yang melemahkan bangsa Arab daripada
menolak ajaran al-Quran serta membuktikan kebenaran risalah nubuwwah.
Al-Quran yang diturunkan dengan tujuh huruf ( الأحرف السبعة ) memberi kemudahan kepada umat Islam untuk membaca dan mengamalkan hukumhakam yang terkandung di dalamnya. Penurunan al-Quran dengan tujuh huruf ini bermula pada period dakwah baginda di Madinah setelah dakwah Nabi SAW semakin meluas ke seluruh tanah Arab. Marhalah ini juga dikenali sebagai “Marhalah At-Tashil” yang membantu umat Arab mengenali al-Quran dan menghayatinya mengikut lahjah kabilah masing-masing.
Hasil galakan dan panduan daripada Nabi SAW, generasi sahabat sangat tekun mendalami al-Quran dengan seluruh wajah qiraat yang diturunkan. Setelah kewafatan baginda, para sahabat telah bertebaran di seluruh Semenanjung Tanah Arab sehingga melahirkan beberapa madrasah qiraat seperti Madani, Makki, Syami, Kufi dan Basri. Kemudian datang generasi selepasnya sehingga melahirkan tokoh-tokoh yang masyhur dalam bidang ini antaranya ialah sepuluh imam qurra’.
Setelah zaman berzaman ilmu qiraat semakin berkembang dengan kelahiran tokoh-tokoh dalam bidang ini seperti Imam as-Syatibi (wafat 590H), Imam Ibnu al-Jazari (wafat 833H) dan lain-lain. Para ulama juga telah membahaskan ilmu qiraat dalam pelbagai sudut untuk menambahkan kefahaman terhadap al-Quran seperti sejarah ilmu qiraat, taujih al-Qiraat al-Mutawatirah, taujih al-Qiraat as-Syazzah.
Apa Hikmah Khilaf Bacaan Qiraat ?
Selaku pelajar takhassus al-Quran, al-Qiraat serta ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya, persoalan yang sering bermain di minda kita ialah apakah hikmah daripada perbezaan bacaan qiraat sedangkan sumbernya adalah satu iaitu al-Quran? Kenapa qiraat-qiraat ini ditulis dengan hanya satu wajah sahaja di dalam setiap mushaf? Apakah kesan atau peranan bacaan qiraat ini terhadap bahasa Arab samada sudut qawaid dan balaghahnya. Adakah bacaan qiraat ini memberi kesan langsung ke atas syariat seperti feqh dan aqidah?
Sebenarnya para ulama’ baik dahulu dan masa kini telah menulis berkenaan hikmah qiraat mutawatir dan kesannya terhadap rasm, bahasa Arab, fiqh. Cuma ianya ditulis secara umum ketika membahaskan ilmu-ilmu seperti bahasa Arab, tafsir, fiqh dengan membawa nas dari qiraat al-Quran sebagai dalil. Sangat sedikit kajian yang memfokuskan kesan bacaan qiraat terhadap bahasa Arab, fiqh dan sebagainya secara lebih kompleks dan menyeluruh. Apatah lagi jika kita ingin mendapatkan kajian dalam perkara ini yang diolah secara mudah, ringkas dan padat yang sesuai untuk tahap orang awam. Sedangkan kajian ini sangat penting bagi setiap muslim dalam aspek apa yang mesti mereka tahu berkenaan mushaf al-Quran dan bacaan al-Quran harian mereka yang mana mengandungi asas-asas tasyri’ dan hukum-hakam.
Taujih Fiqhi
Asas dalam memahami ilmu qiraat ini hingga dapat merasakan kemanisan al-Quran adalah mengetahui taujih dan kedudukan i’rab. Oleh kerana itu , para ulama’ telah berusaha mengkaji perkara ini dan menerangkan ‘illah dan maknamakna serta kesan yang terdiri dari aspek bahasa, fiqh, aqidah dan lain-lain. Maka lahirlah ulama’ yang membahas dari sudut taujih lughawi, balaghi, fiqhi, aqidi dan sebagainya. Semuanya merupakan sebahagian daripada i’jaz al-
Quran.
Kali ini kita akan fokuskan kepada salah satu taujih qiraat iaitu taujih fiqhi yang merupakan sudut yang sangat penting di samping taujih lughawi dan lainlain. Sebelum itu penulis akan menerangkan latar belakang hubungan antara qiraat dan tasyri’ Islami serta manhaj fuqaha’ ketika berhujah dengan qiraat.
Hubungan Antara Ilmu Qiraat Dan Fiqh Islam
Sesuatu yang diketahui umum bahawa ilmu-ilmu Islam saling berkaitan antara satu sama lain. Di antara ilmu-ilmu ini ialah ilmu qiraat dan fiqh Islam. Di sana terdapat hubungan yang sangat kuat antara ilmu qiraat dan ilmu fiqh. Hubungan antara dua disiplin ilmu ini dapat dilihat jika kita meneliti dan mentelaah sebahagian kitab-kitab tafsir yang lebih menjurus dalam perbahasan fiqh. Sebagai contohnya ialah al-Jami’ Li Ahkam al-Quran oleh Imam al-Qurthubi, Ahkam al-Quran oleh Ibnu al-`Arabi, Ahkam al-Quran oleh al-Jassos al-Hanafi dan Zaad al-Masiir Fi `Ilmi at-Tafsir oleh Imam al-Jauzi.
Kita akan dapati di dalam kitab-kitab ini para imam akan mendatangkan wajahwajah qiraat ke atas ayat-ayat yang ingin diterangkan hukum-hukumnya kemudian akan menyandarkan pendapat fuqaha’ yang bersesuaian dengan khilaf atau wajah qiraat tersebut. Bahkan imam-imam tafsir yang lain juga melakukan perkara yang sama dalam hal ini seperti Imam al-Alusi dalam kitabnya Ruuh al-Ma`ani, Imam al-Baidhawi, Imam al-Fahr ar-Razi dan lain-lain.
Bacaan-bacaan qiraat ini juga disebut di dalam sebahagian kitab-kitab fiqh dan usul fiqh. Antaranya ialah Hasyiah al-Bujairimi `Ala al-Khatib dalam fiqh Syafi`i, Mafatiih al-Usul, Syarh al-Fiqh al-Akbar oleh al-Qari dan lain-lain. Bahkan sebenarnya hubungan antara ahli al-Ada’ (qurra’) dan fuqaha’ dapat diibaratkan sebagai hubungan adik-beradik yang sangat rapat, di mana ahli al-Ada’ atau qurra’ berperanan dalam mendhabitkan bacaan qiraat yang mutawatir serta menerangkan kaedah bacaan. Fuqaha’ pula berperanan dalam mengistinbat hukum-hukum yang bersesuaian dengan bacaan qiraat tadi untuk dijadikan dalil-dalil ke atas hukum syara’ serta mengistibat apa yang terdapat di dalam bacaan qiraat dari sudut fiqhiah.
Oleh itu, khilaf dalam bacaan qiraat memberi impak yang besar terhadap ilmu fiqh. Imam an-Nuwairi dalam kitabnya Syarh Toyyibah an-Nasyr menyatakan bahawa seorang faqih berhajat kepada qari, begitu juga sebaliknya seorang qari berhajat kepada faqih untuk mentaujihkan bacaan qiraatnya dan menerangkan hukum yang terhasil daripada khilaf qiraat tersebut. Ini semua menunjukkan kepada kita tentang hubungan yang saling berkaitan antara ilmu fiqh dan ilmu qiraat serta hubungan antara fuqaha’ dan qurra’.
Manhaj Fuqaha’ Ketika Berhujah Dengan Ilmu Qiraat
Sudah menjadi suatu yang thabit, bahawa semua bacaan qiraat al-Quran diturunkan oleh Allah kepada Nabi SAW dan ianya sampai kepada kita dengan jalan yang mutawatir. Semua ini menunjukkan bahawa al-Quran diturunkan dengan tujuh huruf ( الأحرف السبعة ). Setiap bacaan qiraat yang mutawatir tidak boleh dipertikai kesahihannya dan ia menjadi hujah dalam mengistinbatkan hukum-hukum. Walaupun di sana terdapat ayat yang tidak mempunyai khilaf
qiraat dan ada yang mengandungi khilaf, ianya tidak boleh disangsikan kebenarannya kerana setiap apa yang sahih secara mutawatir dari Nabi SAW maka wajib menerima, beriman dengannya dan mengikuti (ittiba’) setiap apa yang terkandung di dalamnya samada ia bersifat i’tiqad atau pun amalan.
Oleh yang demikian, kita dapat melihat para ulama mengistinbat hukum-hukum daripada setiap qiraat yang terdapat di dalam setiap ayat. Maka jelas kepada kita bahawa qiraat menjadi hujah dan panduan fuqaha’ dalam mengistinbat hukum.
Apabila kita dapati terdapat lebih dari satu hukum yang datang daripada khilaf qiraat, maka kita hendaklah menerima kesemuanya sekali tanpa meninggalkan satu pun hukum yang terhasil daripada mana-mana qiraat. Kita juga tidak boleh menjadikan jumlah imam yang meriwayatkan sesuatu qiraat sebagai sebab untuk kita mentarjih mana-mana qiraat.
Terdapat dua keadaan di mana para fuqaha’ berbeza pendekatan mereka dalam mengistinbatkan hukum;
Pertama: Ayat yang mengandungi dua bacaan qiraat yang berlainan tetapi membawa hukum yang sama. Dalam hal ini, para fuqaha’ mengambil jalan dengan menggabungkan keduadua
bacaan qiraat tadi. Antaranya ialah terdapat qiraat yang berbeza wajah dilalahnya tetapi mengandungi hukum yang sama. Contohnya pada kalimah ( تقاتلوھم ، یقاتلوكم ، قاتلوكم )di dalam ayat 191 Surah al-Baqarah terdapat dua bacaan qiraat yang mana hukumnya adalah sama tetapi
wajah dilalahnya berlainan. Wajah dilalah yang pertama menunjukkan secara jelas akan nas ayat, manakala wajah dilalah yang kedua menunjukkan kepada isyarat atau peringatan ( .( الإشارة
والتنبیھ
1) Bacaan pertama yang diriwayatkan oleh Imam Hamzah, al-Kisa`ie dan Khalaf al-`Asyir; dengan menghazafkan huruf alif pada kalimah ( ، قتلوھم ، یقتلوكم
قتلوكم ) membawa maksud larangan membunuh ( .( القتل
2) Bacaan kedua pula diriwayatkan oleh Imam Nafi’, Ibnu Kathir, Abu `Amr, Ibnu `Amir, `Asim, Abu Ja`far dan Ya`qub al-Hadrami; dengan mengisbatkan huruf alif pada kalimah ( تقاتلوھم ، یقاتلوكم ، قاتلوكم ) membawa maksud isyarat atau peringatan agar menghidari perkara-perkara yang boleh membawa kepada pembunuhan ( القتال ) atas wazan al-mufa`alah
yang mengandungi uslub mubalaghah.
Kedua-dua bacaan qiraat ini tetap membawa kepada hukum haram membunuh tanpa hak melainkan wajah kedua hanya menunjukkan uslub mubalaghah di mana jika unsur-unsur yang boleh membawa kepada membunuh (muqaddimah al-Qatl) hukumnya haram, apatah lagi hukum membunuh itu sendiri.
Kedua: Ayat yang mengandungi dua atau lebih bacaan qiraat yang berlainan dan membawa kepada dua atau lebih hukum yang berlainan antara satu sama lain. Dalam keadaan ini, para ulama atau fuqaha’ mempunyai pendekatan yang berbeza.
Pendapat jumhur fuqaha’:
Jumhur ulama’ menyatakan wajib beramal dengan kedua-dua qiraat tersebut walaupun setiap qiraat membawa hukum yang berlainan. Tidak boleh menolak salah satu bacaan qiraat hanya disebabkan hukum yang berbeza kerana ia beerti menolak sebahagian al-Quran yang jelas thabit mutawatirnya. Bagi mereka, perbezaan dua qiraat di dalam satu ayat membawa maksud dua ayat.
Dengan kata lain, sekiranya satu ayat mengandungi 3 qiraat, ini bermaksud ayat itu sebenarnya mengandungi 3 ayat yang berlainan, maka mereka akan menggabungkan qiraat-qiraat ini.
Imam az-Zarkasyi (wafat 794H) dalam kitabnya al-Burhan Fi Ulum al-Quran menyatakan para ulama’ lebih cenderung bahawa dua qiraat seperti dua ayat.
Contohnya kalimah ( وأرجلكم ) di dalam ayat 6 Surah al-Maidah boleh dibaca
dengan dua keadaan:
1) Bacaan secara al-Jarr ( وأرجلكم ) oleh Imam Ibnu Kathir, Abu `Amr, Syu’bah, Abu Ja`far, Hamzah dan Khalaf al-`Asyir. Bacaan ini membawa hukum memadai dengan menyapu air di atas khuf bagi yang memakainya ketika berwudhu’.
2) Bacaan secara al-Nasb ( وأرجلكم ) oleh Imam Ibnu `Amir, Nafi`, al-Kisa’ei, Hafs dan Ya`qub al-Hadhrami. Bacaan ini menerang hukum wajib membasuh kaki jika tidak memakai khuf ketika berwudhu’ . Ayat di atas berkisar tentang hukum membasuh kaki ketika berwudhu’. Para ulama’ telah menggabungkan dua qiraat tersebut. Hukum wajib tetap sama melainkan kaifiat sahaja yang berbeza samada membasuh atau menyapu.
Imam as-Syaukani (wafat 1250H) di dalam Fath al-Qadiir juga menyokong pandangan bahawa dua qiraat seolah-olah bermaksud dua ayat. Pendapat mazhab Hanafi: Abu al-Hassan al-Kurkhi (wafat 340H) dan muridnya Abu Bakr al-Jassos (wafat 370H) yang merupakan dua tokoh besar mazhab Hanafi mempunyai pandangan yang berbeza daripada pandangan jumhur. Mereka menolak pandangan bahawa dua qiraat bermakna dua ayat.
Abu al-Hasan al-Kurkhi berpandangan sekiranya demikian, maka perlu ditulis setiap wajah qiraat di setiap mushaf dan membacanya dengan semua khilaf yang ada. Sekiranya memilih untuk menulis dan membaca salah satu daripada qiraat-qiraat ini, ia beerti telah mengurangi sebahagian dari al-Quran. Sedangkan al-Quran tidak boleh dikurangi sedikit pun akan hak-haknya. Sedangkan penulisan mushaf al-Quran hanya meletakan satu wajah dalam setiap mushaf. Ini membuktikan dua qiraat tidak bermaksud dua ayat.
Abu Bakar al-Jassos juga mengambil pendekatan yang hampir sama dengan gurunya itu iaitu menolak pandangan jumhur. Beliau menyatakan walaupun perbezaan antara dua qiraat pada satu ayat membawa erti adanya dua ayat di situ, tetapi ayat yang pertama itu adalah muhkamat dan ayat yang kedua pula mutasyabihat. Ayat muhkamat di sisi beliau ialah bacaan qiraat yang hanya mengandungi satu makna. Manakala ayat mutasyabihat pula ialah qiraat yang
mengandungi dua makna. Maka wajib meletakkan atau mendahulukan ayat yang muhkamat ke atas ayat mutasyabihat. Ini dapat dilihat apabila beliau mentatbiqkan manhajnya di dalan kitab tafsirnya Ahkam al-Quran.
Contohnya, terdapat dua bacaan qiraat pada kalimah ( لامستم ) di dalam ayat 43
Surah an-Nisa’:
1) Bacaan secara isbat alif ( لامستم ) oleh Imam Nafi`, Ibnu Kathir, Abu `Amr, Ibnu `Amir, `Asim, Abu Ja`far dan Ya`qub. Bacaan ini hanya membawa makna ( الملامسة ) iaitu kinayah kepada jima’.
2) Bacaan secara hazaf alif ( لمستم ) oleh Imam Hamzah, al-Kisa’ei dan Khalaf al-`Asyir. Bacaan ini pula membawa makna ( اللمس ) iaitu mengandungi dua makna; sentuhan tangan atau jima’.
Beliau berpandangan mesti meletakkan ayat yang hanya mengandungi satu makna ke atas ayat yang mengandungi dua makna. Ayat yang mengandungi satu makna merupakan ayat muhkamat, manakala ayat yang mengandungi dua makna merupakan ayat mutsyabihat. Beliau menguatkan hujah bahawa Allah SWT telah memerintahkan agar meletakkan ayat muhkamat ke atas ayat mutsyabihat seperti dinyatakan oleh Allah SWT di dalam Surah Ali `Imran ayat 7.
Oleh itu, bagi beliau bacaan qiraat ( لامستم ) merupakan ayat muhkamat yang mesti diletakkan ke atas bacaan qiraat ( لمستم ) yang merupakan ayat mutsyabihat.
Pada siri yang akan datang penulis akan membawa beberapa contoh ayat al-Quran untuk meneliti serta melihat peranan yang dimainkan oleh qurra’ dalam membantu fuqaha’ menetapkan sesuatu hukum berdasarkan perbezaan pada bacaan qiraat.
والله تعالى أعلى وأعلم
Sumber rujukan:
1) Al-Quran
2) Muhadharat Fi Taujih al-Qiraat; Dr Abdul Karim Ibrahim Soleh. Pensyarah
Tafsir Kuliah Al-Quran & Al-Qiraat Al-Azhar; Nota Kuliah Tahun Satu.Al-
Quran & Al-Qiraat.
3) Al-Qiraat al-Mutawatirah Wa Astruha Fi ar-Rasm al-Qurani Wa al-Ahkam as-
Syar`iah; Dr. Muhammad al-Habsy; Darul Fikr Beirut.
4) At-Taujih al-Balaghi Li al-Qiraat al-Quraniah; Dr Ahmad Sa`ad Muhammad;
Maktabah al-Adab Kaherah.
5) Al-Ahruf as-Sab`ah Wa al-Qiraat as-Sab`; Ummu Habibah; Maktabah Aulad
as-Syeikh Kaherah
Jumaat, 18 Jun 2010
PANDUAN UNTUK MENGHAFAZ QURAN
Oleh : Ustaz Shamsul Hakim
PERSEDIAAN SEBELUM MENGHAFAL :
1. Membersihkan diri dari segala hadas.
2. Memakai wangi-wangian.
3. Bersugi atau memberus gigi.
4. Berwudhuk.
5. Memilih mushaf yang biasa digunakan seharian.
Pastikan tulisan mudah dibaca.
Sebaiknya menggunakan mushaf rasm uthmani.
6. Memilih tempat yang sesuai untuk menghafaz Al Quran.
7. Memilih waktu yang sesuai untuk menghafaz Al Quran. Waktu yang
dicadangkan:
Selepas subuh.
Selepas maghrib.
8. Pilih guru yang ingin anda perdengarkan bacaan dan hafalan anda.
9. Perbetulkan niat untuk menghafal Al Quran.
CARA MENGHAFAZ :
1. Tentukan had bilangan ayat atau mukasurat yang hendak dihafal.
2. Bacalah ayat yang hendak dihafal. Pastikan bacaan tersebut betul dari segi tajwid dan sebutan.
3. Ulang bacaan dengan disemak bacaan tersebut supaya tidak ada kesilapan setiap kali ianya diulang.
Bilangan ulangan ayat yang dicadangkan adalah sebanyak 60 / 30 / 10 / dan lain-lain bersandarkan kepada kemampuan ingatan seseorang.
Semakin banyak ayat diulang semakin mudah ianya dihafal dan kekal lebih lama dalam ingatan.
4. Sebaik sahaja selesai ulangan bacaan tersebut dan anda berpuashati dengan bacaan tersebut, mulakan dengan mengulang ayat yang pertama yang ingin dihafal sehinggalah berjaya menghafal ayat tersebut.
5. Kemudian berpidahlah ke ayat yang kedua. Ulang langkah yang sebelumnya sehingga selesai hafalan ayat yang ketiga.
6. Ulang hafalan ayat satu kemudian diiukuti ayat yang kedua.
7. Selepas anda yakin ayat satu dan dua telah dihafal dengan hafalan yang sempurna mulakan hafalan dengan diulang langkah yang digunakan pada ayat yang pertama dan ayat yang kedua. Kemudian susuli dengan urutan ayat satu dua dan tiga dihafal serentak.
8. Ayat yang berikutnya juga dilakukan langkah seperti ayat satu dua dan tiga sehinggalah sampai ke had yang telah ditetapkan ( cth : 1 ms / 1 ‘ain ).
9. Ulanglah keseluruhan hafalan sehinggalah benar-benar yakin hafalan tersebut sempurna.
10. Perdengarkan bacaan kepada guru atau kawan yang dipilih.
11. Apabila ingin memulakan hafalan yang baru, ulang terlebih dahulu hafalan yang lalu, barulah dimulakan hafalan yang baru dengan cara yang sama pada hafalan yang lalu.
12. Hafallah setiap ayat dan alunkanlah ia dengan penuh tadabbur dan dengan penuh kesungguhan serta niat untuk memahami dan memelihara kalam Allah.
SELEPAS MENGHAFAL :
1. Berdoa agar dikurniakan keberkatan dalam hafalan. Antara doa yang baik untuk dibaca :
اللَّھُمَّ ارْحَمْناَ بِالْقُرْآنِ وَاجْعَلْھُ لَناَ إِماَماً وَنُوراً وَھُدىً وَرَحْمَةً
اللَّھُمَّ ذَكِّرْناَ مِنْھُماَ نُسِّیْناَ وَعَلِّمْناَ مِنْھُمَا جَھِلْنَا وَارْزُقْناَ تِلاَوَتَھُ أَنَاءَ اللَّیْلِ وَأَطْرَافَ النَّھَارِ
وَاجْعَلْھُ لَناَ حُجَّةً یَا رَبَّ الْعَالَمِینَ.
“ Ya Allah Rahmatilah kami dengan Al Quran, jadikanlah ia pemimpin , cahaya dan petunjuk dan rahmat bagi kami. Ya Allah ingatkanlah kami apa yang kami dilupakan , ajarilah kami apa tidak tahu dan berikanlah kami rezeki membacanya di sebelah malam dan di sebelah siang. Jadikanlah ianya hujjah bagi kami wahai Tuhan sekalian alam”.
2. Pastikan Al Quran sentiasa dibaca dan diulang selalu. Pastikan setiap hari ada jadual mengulang dan jadual hafalan yang baru.
3. Berusaha untuk memperbaiki bacaan , memahami makna, hukum dan hikmah yang terkandung di dalam setiap ayat.
4. Berusaha untuk beramal dengan setiap perintah yang didatangkan dan berusaha menjauhi setiap larangan yang terkandung di dalam Al Quran.
TABIAT MEREKA YANG INGIN MENGHAFAZ AL QURAN
1. Sentiasa di dalam keadaan bersih dan suci.
2. Sentiasa berjaga-jaga daripada termakan makanan atau minuman yang haram, begitu juga yang syubhat.
3. Rajin bangun di waktu malam untuk berqiyamullail, membaca Al Quran dan menunaikan solat malam.
4. Mengelakkan daripada melakukan perkara yang sia-sia sama ada dalam bentuk perbuatan atau percakapan serta menjauhi perkara yang dilarang oleh Allah sama ada dalam bertuk percakapan atau perbuatan.
5. Menjaga tingkahlaku dan percakapan seharian.
6. Rajin berpuasa sunat.
7. Memastikan niat menghafal Al Quran sentiasa kerana Allah bukan kerana habuan dunia dan sebagainya.
8. Menjaga hubungan baik dengan Allah dan manusia.
Jumaat, 4 Jun 2010
KISAH ISRA' MI'RAJ DARI RUMAH UMMU HANI'
Dari blog http://hatinurani86.blogspot.com/
Kisah ini bukan sahaja telah dikemukakan oleh Ibnu Ishaq, malah ia juga telah dikemukakan oleh al-Kalbi- seorang pendusta besar dan Syi'ah pekat seperti Ibnu Ishaq dan ramai lagi orang - orang yang seperti mereka .
1) Abu Ja'far ar-Razi
2) Khalid bin Yazid
3) Perawi ketiga ialah Abu Harun al-Abdi
Iman Daraquthni berkata , " Dia seorang yang sentiasa berubah-ubah. Kadang - kadang menjadi seorang Rafidhi ( Syi'ah ), kadang - kadang menjadi seorang Khariji (orang Khawarij)."
6) Dalam riwayat Hasan Basri pula tersebut bahawa setelah Nabi s.a.w mengemukakan peristiwa Isra' dan Mi'raj, maka murtadlah ramai orang yang telah memeluk agama Islam. Tetapi tidak pula dalam riwayat ini disebutkan nama orang - orang yang telah murtad itu . Siapakah mereka ? Sedangkan orang - orang yang memeluk agama Islam pada ketika itu tidaklah begitu ramai. Nama - nama mereka pun disebutkan dengan jelas dalam kitab - kitab sirah. Sesungguhnya kisah ini juga merupakan satu serangan ke atas keikhlasan dan keteguhan para iman para sahabat Nabi s.a.w ia hanya rekaan musuh - musuh sahabat semata - mata