Sabtu, 19 April 2014

Bacaan Sujud Sajadah/Tilawah

 

Sujud Sajadah atau Sujud Tilawah ialah sujud yg dilakukan apabila kita membaca ayat-ayat sajadah di dalam al-Quran. Ayat-ayat tersebut seperti ini:




"Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong."
[Surah 32: as-Sajdah, Ayat 15]
Ayat-ayat lain ada disenaraikan di sini. Pada ayat sajadah, dalam Resam Uthmani, terdapat tanda berikut di hujungnya:
 

Pada kebiasaanya, para imam di masjid akan memberitahu para jemaah jika beliau akan membaca ayat tilawah dan akan dilakukan sujud sajadah pada rakaat sekian sekian. Maksudnya, apabila pada rakaat yang disebut, apabila imam menyebut takbir, akan terus sujud kerana telah membaca ayat sajadah. Sewaktu sujud itu, ini adalah bacaannya:



"Telah sujud wajahku kepada yang telah menciptanya, yang telah memberi rupa baginya dan telah memberi pendengaran dan penglihatan dengan kehendakNya dan dengan kekuatanNya, Tuhan yang penuh limpah keberkatanNya telah menjadikan manusia dengan sebaik-baik kejadian."
Selepas sujud tersebut, kita akan terus bangun semula dan sambung membaca ayat al-Quran dan teruskan dengan rukuk seperti biasa. Jika ayat sajadah dibaca di luar solat, rukunnya adalah:

1. Niat - “Sahaja aku sujud sajadah kerana Allah Ta’ala”
2. Takbiratul Ihram
3. Sujud - baca bacaan sujud sajadah di atas
4. Salam

Hukum sujud sajadah di luar ialah SUNAT kepada pembaca dan juga pendengar bacaan ayat sajadah, dan sujud si pendengar itu tidak tergantung sama ada pembaca (qari) itu turut sujud atau tidak. Jika sedang solat berjemaah, makmum WAJIB mengikuti imam jika imam melakukan sujud sajadah.

Semoga ini menjadi penambah amalan kita dalah kehidupan.

Isnin, 24 Mac 2014

Hukum Menjual dan Menyewakan Aset Wakaf




Hukum Menjual Aset Wakaf 

Dasar hukum penjualan aset wakaf adalah hadist Abdullah bin Umar di bawah ini :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنْ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَصَابَ أَرْضًا بِخَيْبَرَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ أَنْفَسَ عِنْدِي مِنْهُ فَمَا تَأْمُرُ بِهِ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا قَالَ فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ وَلَا يُورَثُ وَتَصَدَّقَ بِهَا فِي الْفُقَرَاءِ وَفِي الْقُرْبَى وَفِي الرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَالضَّيْفِ لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ وَيُطْعِمَ غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ

  “ Dari Ibnu Umar radliallahu 'anhuma bahwa Umar bin Khathab radliallahu 'anhu mendapat bagian lahan di Khaibar lalu dia menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk meminta pendapat Beliau tentang tanah lahan tersebut seraya  berkata: “ Wahai Rasulullah, aku mendapatkan lahan di Khaibar dimana aku tidak pernah mendapatkan harta yang lebih bernilai selain itu. Maka apa yang Tuan perintahkan tentang tanah tersebut? Maka Beliau berkata: “ Jika kamu mau, kamu tahan (pelihara) pepohonannya lalu kamu dapat bershadaqah dengan (hasil buah) nya.” Ibnu Umar radliallahu 'anhu berkata: Maka Umar menshadaqahkannya ( hasilnya ), dan wakaf tersebut tidak boleh dijual, tidak dihibahkan dan juga tidak diwariskan,  namun dia menshadaqahkannya untuk para faqir, kerabat, untuk membebaskan budak, fii sabilillah, ibnu sabil dan untuk menjamu tamu. Dan tidak dosa bagi orang yang mengurusnya untuk memakan darinya dengan cara yang ma'ruf dan untuk memberi makan orang lain bukan bermaksud menimbunnya.”  (HR Bukhori)

 Berdasarkan hadist di atas,  para ulama berpendapat bahwa aset wakaf tidak boleh dijual atau ditarik kembali  oleh pemiliknya, bahkan sebagian kalangan menyatakan bahwa hal ini merupakan kesepakatan ulama. Berkata Imam Qurthubi : “ Pendapat yang membolehkan penarikan kembali barang yang sudah diwakafkan adalah pendapat yang menyelesihi kesepakatan ulama, maka tidak boleh diikuti. “ [1]  Hanya saja dalam rinciannya ternyata para ulama berbeda pendapat :

Pendapat Pertama : Boleh menjual wakaf dan atau menariknya kembali. Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Hanifah. Tetapi murid-muridnya mengingkari hal ini, berkata Abu Yusuf : “ Seandainya hadist di atas sampai kepada Abu Hanifah, niscaya dia akan mengikutinya dan akan menarik pendapatnya yang membolehkan penjualan aset wakaf. “ [2]

Pendapat Kedua : Tidak boleh menjual wakaf sama sekali, walaupun diganti dengan yang lebih baik atau lebih banyak manfaatnya, selama aset wakaf tersebut tidak terputus manfaatnya. Ini adalah pendapat Imam Malik dan Syafi’I[3], dan riwayat dari Imam Ahmad.

Adapun dalil pendapat ini sebagai berikut :

Dalil Pertama : Hadist Umar di atas yang menyebutkan : “ Wakaf tersebut tidak boleh dijual “ ,  kalimat ini bersifat umum, dan tidak ada pengecualian, sehingga tetap haram menjual benda wakaf dan ditukar dengan yang lain.

Dalil Kedua : Jika dibolehkan untuk ditukar dengan yang lain, hal itu akan menimbulkan kerusakan dimana-mana, karena setiap Nadhir wakaf, dengan mudahnya menjual benda wakaf dan menukarnya dengan yang lain, yang menurutnya lebih baik. Jika ini terjadi, maka akan sulit mengontrolnya, maka hal ini dilarang untuk mencegah terjadinya kerusakan tersebut.

Dalil ketiga : Hal ini seperti apa yang difatwakan oleh Imam Malik, ketika  Khalifah Harun Rasyid memintanya izin untuk membongkar Ka’bah dan dikembalikan kepada pondasi yang pernah dibangun Nabi Ibrahim, maka Imam Malik melarangnya dan mengatakan : “ Jangan sampai Ka’bah engkau jadikan sebagai permainan para raja. “ .  Padahal tujuan Khalifah Harun Rasyid adalah kebaikan. [4]

Tetapi dalam madzhab Maliki sendiri dibolehkan menjual tanah atau rumah wakaf jika terkena pelebaran masjid, jalan atau kuburan umum, sebagaimana disebutkan dalam buku Hasyiat ad-Dasyuqi. [5]

Pendapat Ketiga : Boleh menjual wakaf jika manfaatnya hilang, atau wakaf tidak berfungsi lagi, seperti masjid yang roboh, atau masyakat sekitar masjid tersebut pindah tempat, sehingga tidak ada yang memanfaatkan masjid tersebut . Ini adalah pendapat Imam Ahmad dalam riwayat lain. [6]
            Adapun dalilnya sebagai berikut :

Dalil Pertama : Atsar Umar bin Khattab ketika sampai kepadanya berita bahwa Baitul Maal di Kufah telah rusak, maka beliau memerintahkan Saad bin Abi Waqqas gubernur Kufah untuk memindahkan masjid  yang berada di Tamarin, dan memindahkan Baitul Maal di depan masjid. [7]
Peristiwa ini diketahui oleh para sahabat, dan tidak ada satupun dari mereka yang menolaknya, hal  ini menunjukkan adanya kesepakatan mereka.

Dalil Kedua : Bahwa Syariah Islam selalu memperhatikan maslahat dan menghilangkan mafsadah. Jika dengan menjual aset wakaf dan menggantikan dengan lainnya membawa masalahat yang lebih banyak dan mengurangi kerusakan yang ada, maka hal itu dibolehkan karena sesuai dengan ruh Syariah Islam.

Berkata Ibnu Taimiyah : “ Jika kebutuhan mendesak, maka wakaf tersebut wajib diganti dengan yang sama, jika tidak ada kebutuhan mendesak, dibolehkan menggantikannya dengan yang lebih baik, hal itu karena ada maslahat yang hendak dicapai. “

Berkata Ibnu Uqail : “ Wakaf itu sifatnya langgeng, jika tidak bisa melanggengkannya secara khusus ( karena rusak dan yang lainnya ), maka paling tidak kita menjaga maksud ( dari wakaf itu sendiri ), yaitu pemanfaatan yang terus menerus dengan barang lain, yaitu dengan cara diganti, karena kalau tetap mempertahankan aset wakaf yang sudah tidak berfungsi lagi, justru malah tidak sesuai dengan tujuan ( wakaf) itu sendiri  “ [8]

Dalil Ketiga : Meng-qiyaskan kepada hadist yang membolehkan seseorang merubah nadzarnya kepada nadzar yang lebih baik, sebagaimana dalam hadist Jabir :

وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه  أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَوْمَ اَلْفَتْحِ يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنِّي نَذَرْتُ إِنْ فَتَحَ اَللَّهُ عَلَيْكَ مَكَّةَ أَنْ أُصَلِّيَ فِي بَيْتِ اَلْمَقْدِسِ, فَقَالَ: صَلِّ هَا هُنَا فَسَأَلَهُ, فَقَالَ: صَلِّ هَا هُنَا فَسَأَلَهُ, فَقَالَ: شَأْنُكَ إِذًا (رَوَاهُ أَحْمَدُ, أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ)

“ Dari Jabir Radliyallaahu 'anhu bahwa ada seseorang berkata pada waktu penaklukan kota Mekkah: Wahai Rasulullah, aku telah bernadzar bila Allah menaklukan kota Mekkah kepada baginda, aku akan sholat di Baitul Maqdis. Beliau bersabda: "Sholatlah disini." Orang tersebut bertanya lagi dan beliau bersabda: "Sholatlah disini." Orang itu masih bertanya lagi, maka beliau bersabda: "Kalau begitu, terserah engkau." (HR Ahmad dan Abu Daud, dan dishahihkan oleh Hakim)

Jika nadzar saja bisa dirubah dengan yang lebih baik, begitu juga wakaf, boleh dirubah dengan yang lebih baik.

Pendapat ketiga ini lebih kuat, karena sesuai dengan tujuan wakaf itu sendiri yaitu untuk kemaslahatan kaum muslimin. Untuk menghindari adanya penyelewengan, ketika menjual dan menggantikan dengan yang lebih baik, harus di bawah pengawasan pemerintah atau lembaga sosial yang dapat dipercaya. Wallahu A’lam

Menyewakan Benda Wakaf

Adapun menyewakan benda wakaf, sampai sekarang penulis belum menemukan satupun  ulama yang mengharamkan, artinya semua ulama membolehkannya.

Berkata Imam Nawawi : “ Pasal : Pewakaf dan siapa yang diserahi oleh pewakaf ( nadhir ) dibolehkan untuk menyewakan wakaf “ [9]

Tetapi walaupun begitu, para ulama berbeda pendapat  tentang masa penyewaan benda wakaf dan penyewaan dengan upah yang tidak standar :

Pendapat Pertama : Tidak boleh menyewakan benda wakaf dalam jangka waktu yang lama, seperti puluhan tahun lamanya [10] dan tidak boleh menyewakan barang wakaf dengan harga yang tidak standar. Ini adalah pendapat Ulama Hanafiyah Mutakhirin. [11]

Alasannya dikhawatirkan jika disewakan dalam waktu yang lama, keuntungannya sulit diprediksi, dan benda wakaf tersebut bisa berpindah tangan tanpa disadari oleh para nadhirnya, apalagi kalau tidak kuat bukti-buktinya

Ibnu Hajar al-Haitsami ketika ditanya tentang kasus seorang perempuan yang hendak menyewakan benda wakaf selama limapuluh tahun dengan izin pemerintah, beliau menjawab : “ Tidak boleh pemerintah mengizinkannya ( untuk menyewakan benda wakaf ) dalam waktu yang panjang, karena susah menentukan harga sewa dalam jangka waktu tersebut. Begitu juga dikhawatirkan benda wakaf tersebut akan rusak ( hilang ) jika disewakan dalam jangka waktu yang panjang. “ [12]

Berkata Ibnu Nujaim al-Hanafi : “ Ketahuilah bahwa penyewaan wakaf tidak boleh kecuali dengan harga standar, atau lebih. Jika seorang Nadhir menyewakan wakaf dengan harga di bawah harga standar, maka tidak sah penyewaannya, dan penyewa wajib membayar dengan harga standar. “ [13]

Sebagian pemerintah pada waktu dulu sepakat untuk tidak membolehkan penyewaan benda wakaf lebih dari tiga tahun dengan alasan yang disebutkan di atas. [14]

Pendapat Kedua : Boleh menyewakan benda wakaf dalam jangka waktu yang lama jika untuk kepentingan umum. Ini adalah pendapat Ulama Hanafiyah terdahulu dan pendapat mayoritas ulama.
Berkata Ibnu Taimiyah : “Jika benda wakaf untuk kepentingan umum, maka boleh untuk disewakan sesuai dengan maslahat yang ada dan tidak terbatas waktunya menurut mayoritas ulama. “ [15]

Tapi kebolehan menyewakan wakaf dalam waktu panjang ini syaratnya jika diprediksi wakaf tersebut akan tetap utuh, dan tidak rusak ataupun hilang.

Berkata Bahuti  : “ Jika seseorang menyewakan rumah wakaf atau sejenisnya seperti tanah wakaf dengan waktu yang jelas, walaupun jangkanya panjang selama diprediksi barangnya masih utuh, maka sah penyewaannya. “ [16]

Kesimpulan : 

Dari penjelasan di atas, bisa kita simpulkan bahwa boleh menjual wakaf dan menggantikannya dengan yang lebih baik, jika hal tersebut maslahatnya lebih besar sesuai dengan tujuan wakaf itu sendiri. Begitu juga boleh menyewakan wakaf dengan tujuan pengembangan wakaf itu sendiri.

Hendaknya pewakaf atau nadhir wakaf memilih penyewaan yang menguntungkan untuk pengembangan wakaf dan menghindari penyewaan yang jangkanya lama, kecuali jika keuntungannya bisa diprediksi dan bisa dijaga keutuhan dan keselamatan aset wakaf tersebut. Wallahu A’lam.
Wallahu A’lam .

Selasa, 11 Mac 2014

 RIWAYAT HIDUP IMAM ABU HANIFAH
( 80 H - 150 H ) - BAHAGIAN (3 - AKHIR )


Dipetik dari : http://alhammasiyy.wordpress.com

Kitab-kitab penting di dalam mazhab hanafi :

Selain kitab-kitab yang berjumlah enam buah ini,terdapatnya kitab-kitab lain yang telah diriwayatkan oleh murid-murid beliau daripada beliau,iaitu dengan jalan periwayatan riwayat ahad antaranya :

(1) Ar-Ruqqiyaat,iaitu kitab yang meliputi tentang masalah-masalah yang dicabangkan oleh Muhammad ketikamana beliau menjadi Ketua Pengurusan Hamba,
(2) Al-Kisaaniyaat,iaitu kitab yang meliputi tentang masalah-masalah yang telah diriwayatkan oleh murid beliau daripada beliau iaitu Syuaib Bin Sulaiman Al-Kisaniy
(3) Al-Jurjaaniyaat
(4) Al-Haruniyaat,iaitu dinisbahkan kepada nama anak murid beliau,dan dianggap riwayat Muhammad Bin Al-Hasan didalam kitab Al-Muwattho’ Imam Malik merupakan diantara riwayat yang terbaik didalam kitab agung tersebut.

Manakala kitab-kitab Mukhtasar (10) terhadap enam buah kitab tersebut antaranya :

(1) Mukhtasar At-Tohawiy
(2) Al-Kaafiy oleh Haakim As-Syahid
(3) Tuhfatul Fuqaha’ oleh As-Samarqandi
(4) Mukhtasar Al-Qaduri yang mana kitab ini dipanggil sebagai “Al-Kitab” didalam mazhab hanafi
(5) Bidayatul Mubtadiy oleh Burhanuddin Mirghinaani
(6) Al-Mukhtar oleh Abdullah Bin Mahmud Bin Maudud Al-Mosuli
(7) Kanzul Daqaieq oleh An-Nasafi
( 8 ) Wiqayatul Ar-Riwayat Li Sadri As-Syariah

Dan kitab-kitab syarah yang penting pula :

(1) Al-Mabsuth oleh Imam As-Sarakhsi yang mensyarahkan Mukhtasar At-Tohawiy
(2) Badaie’u As-Sonaie’ oleh A’laauddin Al-Kaasaaniy yang mensyarahkan Tuhfatul Fuqaha’ As-Samarqandi
(3) Al-Hidayah oleh Burhanuddin Mirghinaani yang mensyarahkan Bidayatul Mubtadiy dan syarah kepada Al-Hidayah pula Al-Inayah
(4) Al-Ikhtiyar Li Ta’liil Al-Mukhtar oleh Al-Mosuli yang mensyarahkan kitabnya Al-Mukhtar.

(3) Zufar Bin Al-Huzail :

Beliau ialah Zufar Bin Al-Huzail Bin Qis Al-Kufiy,dilahirkan pada tahun 110 hijrah dan wafat pada tahun 158 hijrah,bapa beliau dahulu merupakan penguasa di Basrah,beliau mempelajari Ilmu Hadith pertamanya dan beliau merupakan diantara perawi hadith,kemudian mempelajari Ilmu Feqh dengan Imam Abu Hanifah,dan beliau banyak menggunakan Ar-Ra’yi seperti imam beliau ini,dan beliau merupakan diantara murid yang amat mahir didalam mengunakan Al-Qiyas,dan juga diantara murid yang banyak menggunakan Ar-Ra’yi didalam pendapat beliau,dan merupakan seorang imam yang ahli ibadah,zuhud dan lebih banyak mengembangkan ilmu disepanjang hayat beliau,sehinggalah beliau meninggal dunia di Basrah,dan tiadalah apa yang beliau tinggalkan dirumah beliau melainkan hanya wang 3 dirham sahaja,kerana beliau pernah berkata :
“Tidaklah aku akan tinggalkan apa-apa selepas kematianku nanti sesuatu yang lebih aku takuti daripada Al-Hisab”
(4) Al-Hasan Bin Ziyad Al-Lu’luiey :

Beliau ialah Al-Hasan Bin Ziyad Al-Lu’lu’iey Al-Kufiy yang wafat pada tahun 204 hijrah,berguru dengan Imam Abu Hanifah pertamanya,kemudian dengan dua orang sahabat (didalam mazhab hanafi) iaitu Abu Yusuf dan Muhammad Bin Al-Hasan As-Syibaaniy,dan pencapaian beliau didalam feqh tidaklah sampai ke peringkat pencapaian dua orang sahabat tadi,dan beliau telah mengarang beberapa buah kitab didalam mazhab hanafi,tetapi kitab-kitab beliau itu tidak sampai ke martabat kitab-kitab yang dikarang oleh Muhammad Bin Al-Hasan.

Ashabul Hanafi yang dinisbahkan kepada Imam Abu Hanifah :

Keempat-empat orang alim ini merupakan ashab didalam mazhab hanafi yang paling masyhur,iaitu mereka ini telah berguru dengan Imam Abu Hanifah,dan mereka telah menyebarkan mazhab beliau ini disegenap ceruk,dan bukanlah mereka ini dinisbahkan kepada Imam Abu Hanifah seperti pengikut yang mengikuti ketua,tetapi dinisbahkan seperti anak murid dengan gurunya,kerana kami melihat mereka ini telah berijtihad didalam mazhab hanafi,dan mereka tidaklah hanya menggunakan pendapat-pendapat guru mereka sahaja,tetapi mereka juga telah bercanggah dengan sebahagian pendapat-pendapat guru mereka jika mereka menemui dalil terhadap sesuatu perkara tersebut lebih kuat daripada dalil yang digunakan oleh guru mereka,maka mereka ini merupakan para mujtahid yang dinisbahkan kepada Imam Abu Hanifah,kerana mereka telah berijtihad sambil mengiringi ijtihad mereka itu dengan usul-usul serta kaedah-kaedah yang telah dibina di dalam mazhab ini,dan mereka telah mengikuti jalan serta pendekatan yang digunakan Imam Abu Hanifah didalam berijtihad dan berfatwa.

Melihatkan percanggahan yang berlaku antara ashabul hanafi ini dengan guru mereka maka telah tercetusnya beberapa istilah didalam mazhab hanafi,iaitu dengan meletakkan pendapat imam-imam mazhab ini beriringan dengan pendapat Imam Abu Hanifah dan menisbahkan setiap pendapat itu kepada orang yang mengemukakan pendapat tersebut,ianya terjadi apabila berlakunya percanggahan pendapat sesama mereka dan masing-masing pula bertetapan dengan pendapat masing-masing,jika Imam Abu Hanifah sependapat dengan Abu Yusuf terhadap sesuatu perkara maka mereka akan menggunakan istilah :
هذا رأى الشيخين
Bermaksud : Ini adalah pendapat dua orang syeikh (iaitu Imam Abu Hanifah dan Abu Yusuf)
Penjenamaan ini adalah kerana kedua-dua orang ini adalah guru bahkan syeikh kepada Muhammad Bin Al-Hasan,dan jika Imam Abu Hanifah sependapat dengan Muhammad Bin Al-Hasan pula terhadap sesuatu perkara,mereka akan menggunakan istilah :
هذا رأى الطرفين
Bermaksud : Ini adalah pendapat dari kedua belah pihak (iaitu Imam Abu Hanifah dengan Muhammad Bin Al-Hasan)

Penjenamaan ini adalah kerana Abu Yusuf sebaya dengan kedua-dua imam ini dari segi umur (Imam Abu Hanifah dan Muhammad Bin Al-Hasan) manakala Zufar Bin Huzail pula pendapat beliau dinisbahkan kepada beliau sendiri.

Disebabkan hubungan yang rapat antara Abu Yusuf dengan para khalifah Abbasiyyiin,bahkan para pemerintah menyukai beliau dan juga disebabkan jawatan Ketua qadhi yang dipegangnya itu telah memberikan suatu peluang yang cukup besar kepada beliau untuk menyebarkan mazhab hanafi ke seluruh pelusuk Negara Islam,dan sesungguhnya para penguasa Utsmaniyiin telah menyebarkan mazhab hanafi ini di kebanyakkan negara-negara islam sehinggalah ke hari ini,ianya tersebar di negara-negara yang mendapat pengaruh penguasaan pemerintahan Utsmaniy,seperti Negara Turki,Mesir,Syria dan Lubnan dan beberapa negara Eropah serta Benua Asia yang mana telah terkesan dengan pemerintahan islam Turki seperti Albania dan Balkan,dan mazhab ini telah diikuti secara meluas di Afghanistan,Pakistan,India dan China.

Istilah-istilah penting di dalam mazhab hanafi pula :

(1) Al-Imam : Imam Abu Hanifah
(2) As-Sohibaani : Abu Yusuf dan Muhammad Bin Al-Hasan As-Syibaaniy
(3) Ats-Tsalatsah (الثلاثة) : Al-Imam dan As-Sohibaani
(4) Kitab Zahirul Riwayat : Kitab-kitab Muhammad Bin Al-Hasan As-Syibaaniy yang berjumlah enam buah
(5) Al-Kitab : Mukhtasar Al-Qaduri
(6) Al- Mutun Ats-Tsalatsah : Al-Wiqayah,Kanzu Ad-Daqaieq dan Mukhtasar Al-Qaduri.

RUJUKKAN DAN PENERANGAN :

(1) Al-Madkhal Ila Al-Feqh Al-Islami oleh Dr.Mahmud Muhammad At-Tonthowi
(2) Ar-Ra’yu : Apa yang dicondongkan oleh hati selepas berfikir dan mendalami sedalam-dalamnya terhadap sesuatu masalah dan berusaha mencari kebenaran terhadap sesuatu yang bercanggah tanpa mengambil sesuatu kebenaran itu berdasarkan hawa nafsu,dan Ar-Ra’yu pula digunakan dengan :

(2.1) Ijtihad pada nas-nas yang bersifat zhonni,iaitu nas-nas yang mempunyai banyak takwil dan mempunyai berbagai makna.

(2.2) Menggunakan dalil-dalil aqal yang bersandarkan kepada Al-Quran dan As-Sunnah secara zahir atau tersembunyi seperti Qiyas,Masalihul Mursalah,Sadduz Zaraie’,Istihsan dan lain-lain.

Manakala Madrasah Ar-Ra’yi di Iraq pula ialah sebuah institusi yang banyak menggunakan Ar-Ra’yu di dalam pendekatan feqh mereka memandangkan keadaan Iraq ketika itu yang menjadi sarang memalsukan hadith yang mana ianya telah dipelopori oleh Umar Bin Al-Khattab dan telah dipindahkan ke Iraq oleh Abdullah Bin Mas’ud,dan Imam Abu Hanifah telah mengambil dari jalan Mas’ud ini dari guru-guru beliau yang berguru dengan Mas’ud dan Imam Abu Hanifah dianggap sebagai Imam Madrasah Ar-Ra’yi di Iraq ini,tetapi tidaklah mereka mengunakan ar-Ra’yu itu apabila menjumpai penyelesaian terhadap sesuatu masalah itu dari Al-Quran dan As-Sunnah.

Pendekatan golongan ini amat berbeza dengan pendekatan golongan Madrasah Ahlul Hadith di Hijaz yang mana mereka lebih banyak menggunakan hadith-hadith dan atsar-atsar didalam pendekatan feqh mereka.

(3) Yang dimaksudkan dengan perawi yang adil ialah : hendaklah dia seorang yang beragama islam,baligh (cukup umur) beraqal,terlepas dari tuduhan Fasiq dan juga terlepas dari perkara yang mencemarkan maruah.

Manakala perawi yang Tsabit ataupun Dhobit pula ialah : riwayatnya tidak bercanggah dengan riwayat dari perawi yang tsiqah (terpercaya),tidak cepat terlupa hafalanya,tidak bodoh atau dungu,tidak melakukan kesalahan yang berat didalam riwayatnya juga tidak terlalu banyak melakukan kesilapan di dalam periwayatanya. (Taisiru Mustholahul Hadith oleh Dr.Mahmud At-Thohhan)

(4) Yang dimaksudkan dengan Ijmak Soreh ialah : suatu persetujuan pendapat dari kalangan para mujtahid samada melalui kata-kata mereka atau perbuatan-perbuatan mereka terhadap sesuatu hukum pada sesuatu masalah,seperti berhimpunya para ulamak didalam suatu majlis,dan setiap seorang dari mereka melontarkan pendapat masing-masing secara jelas dan terang terhadap sesuatu masalah,lalu bersepakatnya pendapat-pendapat mereka itu dengan suatu hukum yang sama,ataupun setiap ulamak tersebut mengeluarkan fatwa mereka terhadap sesuatu masalah berdasarkan ijtihad masing-masing,lalu berlakunya persepakatan fatwa-fatwa tersebut dengan hukum yang sama,yang mana ianya dapat dijadikan hujjah didalam hukum syarak tanpa khilaf dikalangan jumhur ulamak.

(5) Dan Ijmak Sukutiy pula ialah : seperti berkatanya beberapa mujtahid didalam zaman masa yang sama dengan memberikan pendapat terhadap sesuatu masalah,tetapi beberapa mujtahid yang lain pula hanya mendiamkan diri mereka selepas mendalami pendapat-pendapat tersebut,tanpa sebarang pengingkaran,bercanggahnya para ulamak terhadap ijmak ini dari segi kebolehanya dijadikan hujjah di dalam hukum syarak :

Malikiah dan As-Syafieyyah : tidak dikira sebagai Ijmak dan tidak boleh dijadikan hujjah,
Al-Hanafiah dan Al-Hanabilah : dikira sebagai Ijmak dan merupakan hujjah syarak yang qoth’ie. (Al-Wajiz Fi Usulil Feqh oleh Dr.Wahbah Az-Zuhailiy)

(6) Al-Istihsan : menggunakan qiyas yang bersifat tersembunyi melebihi daripada qiyas yang bersifat zahir dan jelas,ataupun menggunakan hukum yang bersifat terkecuali melebihi daripada hukum yang bersifat Kulli iaitu hukum yang bersifat menyeluruh,contoh :

(6.1) Para fuqaha’ Hanafiah menyatakan bahawa jika berselisihnya antara penjual dan pembeli terhadap kadar harga pada sesuatu barang jualan sebelum ianya di beli oleh si pembeli, yang mana si penjual mendakwa bahawa harga barang tersebut ialah RM100 manakala si pembeli pula mengatakan RM 90,maka secara jalan Istihsan (qiyas tersembunyi) hendaklah kedua-dua mereka mengangkat sumpah.

Jikalau secara jalan Qiyas yang zahir pula,penjual itu tidaklah perlu mengangkat sumpah,kerana kaedah menyatakan : « pembuktian ke atas siapa yang mendakwa dan bersumpah kepada siapa yang menafikanya » dan si penjual mendakwa pertambahan sebanyak RM 10 dari RM 90,dan si pembeli pula menafikan harga tersebut,maka si penjual tidak perlu bersumpah,

Dari jalan Istihsan,jelasnya si penjual tersebut merupakan pendakwa berdasarkan peningkatan harga yang dibuat,dan menafikan hak si pembeli dari menerima barang tersebut selepas sudah dibayar RM 90,dan si pembeli itu pula merupakan orang yang menafikan peningkatan harga yang dibuat oleh si penjual sebanyak RM 10 dan dia juga merupakan pendakwa kerana dia mendakwa haknya menerima barang tersebut selepas membayar RM 90,maka kedua-dua belah pihak merupakan penafi,maka kedua-dua mereka perlu mengangkat sumpah.

(6.2) Hukum yang bersifat Kulli iaitu hukum yang menyeluruh melarang jualbeli yang mendahulukan bayaran dan melambatkan memiliki barang jualan,tetapi jika dipandang secara Istihsan (hukum yang bersifat terkecuali) ianya dibolehkan memandangkan keperluan manusia yang berhajat jualbeli sebegitu,contoh : tempahan menjahit,yang mana didahulukan bayaran tetapi dilambatkan mendapat barang tempahan tersebut. (Ilmu Usul Feqh oleh As-Syeikh Abdul Wahab Khalaaf)

(7) Feqh Iftiradhi : Suatu bentuk ijtihad di dalam feqh yang meletakkan hukum syarak terhadap sesuatu kejadian yang belum pun berlaku ketika itu,yang mana pengamalnya akan menjangkakan kejadian-kejadian yang belum pun berlaku lagi seterusnya mencari penyelesaian terhadap jangkaan-jangkaan tersebut.

( 8 ) Fuqaha’ Hijaz : ataupun Madrasah Ahlul hadith di Madinah Al-Munawwarah,yang mana Imam Malik merupakan imam institusi ini,dan diantara syeikh-syeikh institusi ini yang awal ialah : Zaid Bin Tsabit dan Abdullah Bin Umar radiallahu anhuma,yang mana Abdullah Bin Umar ini merupakan insan yang teramat kuat berpegang dengan sunnah rasulullah sallallahu alahi wassalam,pendekatan golongan ini ialah apabila mereka disoal tentang sesuatu masalah,jika mereka mengetahui sesuatu ayat Al-Quran atau hadith nabi maka mereka akan berfatwa,jika tiada,mereka akan mendiamkan diri,dan mereka akan berfatwa terhadap kejadian-kejadian yang hanya berlaku di ketika itu sahaja tanpa membuat sebarang jangkaan kepada kejadian yang belum berlaku.

Berkatanya As-Syakbi : Apa-apa yang datang dari para sahabat nabi itu kepada kamu maka ambillah,tetapi jika ianya hanya pendapat peribadi mereka maka lemparkanlah kata-kata mereka itu di tempat buang hajat ( jamban)

(9) Zahirul riwayat : enam buah kitab pengumpulan riwayat oleh Muhammad Bin Al-Hasan yang diriwiyatkan oleh para ashab hanafi,iaitu 3 orang imam besar mazhab hanafi iaitu imam Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Muhammad Bin Al-Hasan dan ada juga Zufar Bin Huzail dan Hasan Bin Ziyad,yang mana kebanyakkanya merupakan riwayat pendapat 3 orang imam besar ini di dalam enam buah kitab kepunyaan Muhammad Bin Al-Hasan ini,yang mana keenam-enam kitab ini merupakan sumber utama mazhab ini.

(10) Mukhtasar :ringkasan yang menyatakan hanya perkara-perkara yang raajih (yang kuat) daripada perkara-perkara yang bercangah.

HIDUPLAH PERJUANGAN ISLAM SELAMANYA…

“Barangsiapa yang ingin copy dan paste terjemahan ini hendaklah dia meminta izin dengan tuan blog ini,masuk rumah orang perlu ada tatatertib dan adab-adabnya..”

Sabtu, 15 Februari 2014

RIWAYAT HIDUP IMAM ABU HANIFAH
( 80 H - 150 H ) - BAHAGIAN (2)

Dipetik dari : http://alhammasiyy.wordpress.com




Kitab-kitab hasil karangan Imam Abu Hanifah :

Tidaklah kami mengetahui apa-apa kitab feqh yang dikarang sendiri oleh Imam Abu Hanifah,sebenarnya,beliau tidak mengarang apa-apa kitab pun didalam bidang feqh,kerana jika beliau ada mengarang apa-apa kitab feqh maka kita akan dapati adanya suatu bentuk buku pengumpulan,dan pasti akan disebarkanya oleh murid-murid beliau yang berguru dengan beliau,dan setiap kata-kata beliau yang disampaikan dari orang itu ialah sebenarnya berupa kata-kata dari risalah-risalah kecil beliau didalam Ilmu Kalam,dan pendapat-pendapat beliau pada feqh pula berasal dari jalan periwayatan anak-anak murid beliau,kerana merekalah yang memelihara pendapat-pendapat beliau itu dengan menulisnya dan meriwayatkanya kepada kami pada setiap bab dari bab-bab feqh.

Anak-anak murid Imam Abu Hanifah:

Sesungguhnya Imam Abu Hanifah mempunyai anak-anak murid yang menyebarkan dan memelihara mazhab beliau agar kekal meniti zaman,dan tidaklah terhapusnya mazhab beliau sepertimana terhapusnya mazhab-mazhab para fuqaha’ lain yang bertaraf mujtahid yang sezaman dengan beliau atau yang sebelum beliau lagi,jika bukan kerana pengikut-pengikut dan sahabat-sahabat beliau yang meriwayatkan pendapat-pendapat beliau dan mengumpulkanya kedalam sebuah kitab serta mewariskanya dari generasi ke generasi seterusnya pastilah akan terhapusnya juga mazhab beliau ini.

Diantara anak-anak murid beliau yang masyhur ialah : As-Syeikh AbuYusuf,As-Syeikh Muhammad Bin Al-Hasan As-Syibaaniy,As-Syeikh Zufar Bin Al-Huzail,As-Syeikh Al-Hasan Bin Ziyaad.

(1) Abu Yusuf :

Beliau ialah Abu Yusuf Ya’qub Bin Ibrahim Al-Ansori,dilahirkan di Kufah pada tahun 112 hijrah dan wafat pada tahun 182 hijrah di Kufah,beliau mempelajari Ilmu Hadith serta menghafalnya,kemudianya beliau mempelajari Ilmu Feqh pertamanya dengan Ibnu Abi Laila,kemudian menyambung pengajianya itu dengan Imam Abu Hanifah,melaziminya dan berguru denganya serta mempelajari Ilmu Feqh,beliau merupakan anak murid utama Imam Abu Hanifah serta yang paling dekat denganya,dan apabila melihatkan ibu-bapa beliau yang miskin,Imam Abu Hanifah telah menolong beliau dengan memberikanya harta untuk membantu beliau dalam menuntut ilmu (alaa,macam biasiswa juga) Abu Yusuf merupakan anak murid beliau yang paling faaqih serta yang paling banyak meriwayatkan hadith,beliau tidaklah hanya mengetahui mazhab imamnya itu sahaja,sesungguhnya beliau telah mengembara di Madinah untuk bertemu dengan Imam Malik dan berguru denganya Ilmu Feqh dan Hadith,dan beliau juga ada menarik balik beberapa pendapat beliau dan berhukum dengan pendapat Imam Malik dan pendapat para fuqaha’ di Hijaz. ( 8 )

Beliau dianggap sebagai seorang mujtahid,kerana terdapatnya beberapa pendapat beliau yang bercanggah dengan pendapat gurunya pada sesetengah masalah,dan ijtihad beliau itu pula beriringan dengan usul Imam Abu Hanifah,dan beliau dikira sebagai mujtahid pada mazhab,tetapi beliau tidak ada mazhab yang khas.

Sesungguhnya beliau ada memegang jawatan dizaman pemerintahan Abbasiyyiin dibawah tiga orang khalifah iaitu Al-Mehdi,Al-Hadi dan Harun Ar-Rasyid yang mana Harun Ar-Rasyid memuliakan beliau dan menaikkan beliau sehingga ke tahap yang tertinggi yang tidak dapat dicapai oleh sesiapa pun selain beliau,

Harun Ar-Rasyid telah mengurniakan beliau pangkat Ketua Qadhi,dan beliau merupakan orang pertama yang memegang jawatan ini dari golongan fuqaha’,dan pangkat ini pula telah membuka peluang kepada beliau untuk berkhidmat kepada mazhab imamnya dengan menyebarkanya kepada seluruh manusia,dan beliaulah yang bertanggungjawab melantik qadhi di seluruh wilayah milik Daulat Abbasiyyah,beliau tidak akan melantik qadhi melainkan qadhi yang bermazhab hanafi,lalu perkara ini telah menggalakkan ramai orang ingin mempelajari mazhab hanafi serta menyebarkanya kepada orang ramai sehingga ramailah yang mengikut mazhab tersebut serta telah menjamin pengekalan mazhab hanafi,beliau telah meletakkan suatu usul feqh bagi mazhab hanafi,dan juga telah diriwayatkan kata-kata dari beliau pada masalah-masalah feqh yang pelbagai,dan beliau telah menyandarkan pendapat mazhab ini dengan hadith-hadith nabi yang dihafalnya serta yang difahaminya,dan beliau telah bercanggah dengan imamnya ini disebabkan oleh pengetahuan beliau pada sesetengah hadith yang tidak dikaji oleh Imam Abu Hanifah,dan beliau telah menambah didalam mazhab ini beberapa pendapat yang beliau telah mendalaminya serta dari apa yang telah beliau dapati dari feqh golongan Hijaz.

Diantara kitab-kitab yang dikarang oleh Abu Yusuf dan masih lagi ada pada kami ialah : Kitab Al-Kharaj yang dikarang oleh beliau disebabkan oleh keinginan Khalifah Harun Ar-Rasyid yang menginginkan suatu asas untuk berhukum dengan hukum-hakam yang berkaitan dengan harta untuk Daulah Abbasiyyah,dan juga Kitab Ar-Radd ‘Ala Siyarul ‘Auzaiey,dan telah diriwayatkan beberapa pendapat beliau didalam Kitab Al-Umm oleh Imam Syafiey.
Diantara kata-kata beliau yang menunjukkan kewarakkan serta ketaqwaan beliau kepada Allah ialah kata-kata beliau ketika beliau hampir-hampir menemui ajal :
“Setiap apa yang telah aku fatwakan sesungguhnya aku telah menariknya kembali kecuali pada apa yang bertepatan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah” dan pada lafaz yang lain : …”kecuali pada apa yang selari dengan Al-Quran serta pada apa yang dipersetujui oleh sekalian muslim” dan perkara ini tidaklah asing bagi Abu Yusuf kerana beliau merupakan Ahli Ra’yi yang paling banyak meriwayatkan hadith .
(2) Muhammad Bin Al-Hasan As-Syibaaniy :

Beliau ialah Muhammad Bin Al-Hasan Bin Al-Farqad As-Syibaaniy,dilahirkan pada 132 hijrah,iaitu ketika ayah beliau bermusafir bersama tentera-tentera Syam yang sedang menuju ke Iraq,beliau berasal dari sebuah kampung di Dimasyq (Damsyik) dan beliau wafat pada tahun 189 hijrah ketika beliau dalam perjalanan ke Khurasan bersama Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Beliau tinggal di Kufah dan berguru dengan Imam Abu Hanifah,tetapi beliau tidak tinggal disana lama dan beliau berguru dengan imamnya itu sekejap sahaja,apabila wafatnya Imam Abu Hanifah beliau ketika itu baru sahaja berumur 18 tahun,kemudianya beliau berguru pula dengan Abu Yusuf dan mempelajari mazhab hanafi,tetapi beliau tidaklah hanya mempelajari mazhab hanafi sahaja,tetapi beliau telah pergi ke hijaz dan telah mendalami hadith dari golongan Hijaz di sana dan beliau telah berguru dengan Imam Malik di Madinah Al-Munawwarah dan telah tinggal bersamanya selama 3 tahun lamanya,dan mempelajari Ilmu feqh,Ilmu Hadith dan beliau telah meriwayatkan Al-Muwattho’ daripada Imam Malik,dan beliau juga mempelajari Ilmu Feqh dengan At-Tsauri dan Al-‘Auzaiey,disebabkan itulah ianya telah memberikan kesan terhadap pendapat-pendapat beliau didalam bidang feqh,beliau telah menggabungkan bersama Madrasah Ar-Ra’yi dan Madrasah Ahli Hadith,dan menggunakan pendapat kedua-dua madrasah tersebut didalam pendapat-pendapat beliau,dan beliau telah berusaha untuk melakukan pendekatan terhadap kedua-duanya.
Sesungguhnya beliau merupakan seorang yang faaqih dan sangat cerdas,serta berpengetahuan,Imam Syafiey telah berguru dengan beliau ketikamana Imam Syafiey mengembara ke Iraq,dan Imam Syafiey telah berkata tentang beliau :”Sesungguhnya Muhammad Bin Al-Hasan dipenuhi hatinya dan matanya (dengan ilmu)” dan berkata juga : “Tidak pernah aku melihat sesiapa pun yang lebih a’lim tentang kitabullah selain Muhammad,seakan-akan diturunkan Al-Quran kepadanya” beliau berkata lagi : “Sesungguhnya aku telah menulis dari apa yang aku dapati dari Muhammad sebanyak bebanan unta,jika bukan kerana dia,tidaklah dibukakan kepadaku ilmu”
Sesungguhnya Muhammad Bin Al-Hasan seorang imam yang pintar,cerdik dan cerdas sehinggakan beliau telah menjadi tempat rujukkan ahli ra’yi ketika Abu Yusuf masih hidup,beliau pernah menjawat jawatan Ketua Pengurusan Hamba untuk pihak Khalifah Harun Ar-Rasyid,dan beliau mengurusnya dengan adil,Harun Ar-Rasyid telah memberhentikan perkhidmatan beliau pada tahun 187 hijrah,selepas beliau diberhentikan beliau telah pergi ke Baghdad,kemudian Harun Ar-Rasyid telah cuba memujuk beliau dan mengajak beliau kembali kepadanya semula,dan Harun Ar-Rasyid telah menjejaki perjalanan beliau yang sedang dalam perjalanan ke Khurasan,tetapi beliau telah meninggal dunia ketika didalam perjalanan tersebut,Khalifah Harun Ar-Rasyid lalu berkata : “Aku telah mengebumikan Ilmu Bahasa Arab dan Ilmu Feqh di Ray pada hari ini” Khalifah Harun Ar-Rasyid bermaksud ingin memuji seorang syeikh yang mahir didalam bidang Ilmu Bahasa Arab dan merupakan Syeikhul Qiraat dan Ilmu Nahu iaitu As-Syeikh Abu Hasan Ali Bin Hamzah Al-Kisaiey dan syeikh yang alim dalam bidang Feqh dan Hadith iaitu Muhammad Bin Al-Hasan As-Syibaaniy yang mana kedua-dua syeikh ini meninggal dunia di hari yang sama.

Beliau merupakan imam yang melakukan usaha pengumpulan untuk mazhab hanafi,iaitu dengan mengarang banyak kitab-kitab untuk mazhab hanafi,yang paling utamanya ialah enam buah kitab yang mana para ulamak mazhab hanafi mengatakan kitab-kitab ini merupakan Zahirul Riwayat (9) kerana ianya telah diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya iaitu :

(1) Kitabul Asl yang juga dikenali dengan Al-Mabsuth,
(2) Kitab Al-Jaamik As-Saghir,
(3) Kitab Al-Jaamik Al-Kabir,
(4)Az-Ziyaadaat,
(5) As-Siyarus Saghir,
(6) As-Siyarul Kabir .

Dan kitab dua yang terakhir ini menerangkan tentang hubungan Negara Islam dengan negara-negara lain ketika didalam dua keadaan iaitu ketika aman dan ketika perang.

( bersambung..... )

Isnin, 3 Februari 2014

RIWAYAT HIDUP IMAM ABU HANIFAH
( 80 H - 150 H ) - BAHAGIAN (1)

Dipetik dari : http://alhammasiyy.wordpress.com



Dengan nama Allah yang maha pemurah lagi maha mengasihani..
Alhamdulilah,segala puji hanyalah bagi Allah…



Riwayat hidup dan pengajian :

Beliau ialah seorang imam yang agung iaitu Abu Hanifah An-Nu’man Bin Tsabit Bin Zuutha At-Taimiy Al-Kufiy,beliau dilahirkan di Kota Kufah,beliau berketurunan Parsi,bapanya dahulu merupakan milikkan kepada seorang lelaki dari Bani Taimullah Ibnu Tsa’labah,kemudianya dia telah dimerdekakan,kerana itulah nama beliau dinisbahkan kepada At-Taimiy iaitu nama kepada Bani Taim,mengikut riwayat yang masyhur,beliau telah dilahirkan pada 80 hijrah,dan beliau telah meninggal dunia pada 150 hijrah.

Kembara pengajian beliau bermula di Kota Kufah,disana beliau telah memulai belajar Ilmu Kalam sehingga beliau mahir didalam ilmu tersebut,lalu beliau pun mengarang sebuah kitab yang berkaitan dengan Ilmu Kalam yang bertajuk Fiqh Al-Akbar,kemudianya beliau pun beralih kepada pengajian Ilmu Feqh,dan beliau telah berguru dengan As-Syeikh Himaad Bin Abi Sulaiman,yang mana dia pula mempelajari Ilmu Feqh dari As-Syeikh Ibrahim An-Nakhaie’.

Pengetahuan Imam Abu Hanifah didalam bidang feqh telah sampai ke peringkat yang tidak termampu dicapai oleh para fuqaha’ lain yang sezaman dengan beliau pada ketika itu,yang mana Imam Syafiey telah berkata tentang beliau : (Para fuqaha’ dalam bidang feqh bergantung kepada Imam Abu Hanifah) dan beliau merupakan insan yang wara’ orangnya serta orang yang berada,kerana beliau dahulunya merupakan seorang peniaga kain di Kota Kufah,sebelum beliau menceburkan diri beliau didalam lapangan ilmu ini.

Dan dari hasil kegiatan perniagaan beliau serta pengetahuan beliau tentang ilmu perniagaan dan juga dengan pengajian beliau didalam Ilmu Tauhid telah memberikan banyak faedah kepada beliau,cukuplah dengan harta perniagaan yang beliau ada daripada menjawat sebarang jawatan penting didalam kerajaan,sesungguhnya beliau enggan menerima sebarang jawatan kerana beliau menginginkan agar beliau bebas dalam memberikan pendapat beliau tanpa dikongkong dari pihak pemerintah,dan juga tidaklah beliau akan ditakutkan dengan dilucutkan dari jawatanya nanti,menampakkan bahawa beliau tidak takut kepada celaan dari orang-orang yang mencela dalam melontarkan pandangan beliau.

Sepanjang penceburan beliau didalam aktiviti perniagaan,beliau telah mendapat banyak pengetahuan tentang muamalat didalam perniagaan secara praktikal,ini kerana terjadinya saling jualbeli antara beliau dengan manusia lainya dipasar,tanpa syak lagi,disebabkan interaksi secara realistik dan praktikal tersebut,telah memberikan beliau kebolehan yang luas dalam berhukum secara ra’yi dan manthiq,dan juga berkebolehan mempraktikkan secara amali didalam hukum-hakam syariah islamiah pada berbagai jenis kejadian yang dihadapi oleh manusia didalam kehidupan mereka,kerana itulah beliau dianggap antara ahli feqh yang membuka luas pintu penggunaan ra’yi dan juga beliau merupakan Imam di Madrasah Ar-Ra’yi (2) dizamanya.

Beliau merupakan taabi’ taabieen mengikut riwayat yang masyhur,kerana pada zaman beliau terdapatnya empat orang sahabat yang masih hidup lagi ketika itu seperti : Anas Bin Malik radiallahu anhu di Basrah,Abdullah Bin Ubai di Kufah,Sahl Bin Saad As-Saaiediy yang berada di Madinah dan Abu Tufail Aamir Bin Waatsilah yang berada di Mekah,tetapi,tidaklah Imam Abu Hanifah sempat bertemu dengan mereka.

Dan dikatakan bahawasanya beliau merupakan seorang At-Tabieen,kerana beliau pernah berjumpa dengan beberapa orang sahabat dan sempat berguru dengan mereka,tetapi riwayat tersebut terdapatnya syak padanya.

Syeikh-syeikh beliau :

Imam Abu Hanifah lahir dari Madrasah Ar-Ra’yi seperti mana yang telah diterangkan tadi,dan Madrasah Ar-Ra’yi itu terdapatnya murid-murid mereka yang tersendiri dan pendekatan mereka terhadap ilmu yang tersendiri,yang mana madrasah ini telah diasaskan oleh Amirul Mukminin iaitu Umar Bin Khattab radiallahu anhu dan telah dipindahkan ke Kufah oleh seorang lagi sahabat yang mulia iaitu Abdullah Bin Masu’d radiallahu anhu,dan betapa ramai yang telah berguru dengan beliau,antaranya Ibrahim Alqamah Bin Qis,Masruq Ibnu Al-Ajda’ dan Syuraih Al-Qaadhi,kemudianya beberapa orang fuqaha’ yang terkenal pula telah berguru dengan mereka antaranya Ibrahim An-Nakhaiey,Aamir Bin Syarahiil As-Sya’biy,kemudianya Himad Bin Abi Sulaiman pula telah berguru dengan mereka,dan daripada jalan Himad Bin Abi Sulaiman lah Imam Abu Hanifah mengambil ilmu-ilmu para ulama’ tersebut,dan beliau telah melazimi syeikh beliau itu selama 18 tahun lamanya,dan beliau menamatkan pengajian beliau dengan mazhab feqh yang dinisbahkan kepada beliau iaitu Mazhab Hanafi.

Sesungguhnya Imam Abu Hanifah merupakan seorang imam yang tidak dapat dipersoalkan lagi kealimanya,seorang yang faaqih dan amanah dan juga merupakan seorang perawi hadith nabi yang tsiqah (terpercaya) dan beliau mempunyai harta perniagaan yang banyak yang mana beliau menyalurkanya kepada syeikh-syeikh beliau dan juga anak murid beliau dan membantu mereka.

Keengganan Imam Abu Hanifah daripada menjawat jawatan :

Imam Abu Hanifah merupakan seorang imam yang berada dan warak,dan cukuplah dengan harta yang beliau perolehi dari hasil perniagaan beliau itu daripada menjawat sebarang jawatan,kewarakkanya serta ketaqwaanya terhadap Allah telah menghalang beliau daripada menjawat apa-apa jawatan dizaman pemerintahan Al-Umawi begitu juga di zaman pemerintahan Al-Abbasi,dan sesungguhnya Yazid Bin Umar telah meminta seorang dari pegawainya di Iraq di zaman pemerintahan Al-Umawi iaitu Marwan Bin Muhammad supaya menyatakan kepada Imam Abu Hanifah untuk menjadi pentadbir di Kufah tetapi beliau telah menolaknya,lalu beliau telah diseksa disebabkan penolakkan beliau terhadap jawatan tersebut,beliau telah disebat dengan menggunakan cambuk sebanyak 110 kali sebatan,setiap hari sebanyak sepuluh kali sebatan dan pada zaman pemerintahan Al-Abbasi pula Abu Ja’far Bin Mansur telah berkenan untuk menjadikan beliau pentadbir di Baghdad tetapi beliau telah menolaknya juga,lalu sebagai hukuman beliau telah ditahan dan diseksa lagi sekali dengan dipukul dengan cambuk sebanyak 10 kali sebatan setiap hari sehingga beliau hampir-hampir menemui ajal beliau.

Sebab sebenar beliau diseksa mengikut kata Al-Marhum As-Syeikh Al-Khadri ialah :
Sesungguhnya Yazid Bin Umar berbicara dengan beliau tentang tawaran jawatan tersebut adalah bertujuan untuk menguji kesetiaan beliau terhadap pemerintahan Al-Umawiah,jika beliau menerima jawatan tersebut ianya dapat menjadi bukti kesetiaan beliau terhadap pemerintah dan juga kesudian beliau menolong dan menyokong pemerintah ketika itu,dan penolakkan beliau terhadap jawatan yang ditawarkan pemerintah ketika itu pula akan menjadi bukti bahawa beliau tidak menyokong golongan pemerintah,dan disebabkan itulah beliau telah diseksa,kerana mereka telah menganggap yang beliau tidak menyokong kerajaan pemerintah ketika itu,dan mereka menyangka bahwa beliau merupakan penyokong kepada golongan Al-Alawiyyun iaitu golongan pembangkang pemerintahan Al-Umawiyah.

Disebabkan itulah kita dapat lihat yang Abu Ja’far Al-Mansur ketika mana mahu menawarkan jawatan kepada Imam Abu Hanifah,dan apabila mendengarkan penolakkan dari beliau,dia telah berkata :Apakah kamu tidak menyukai pemerintahan kami??,dan yang jelasnya,penahanan beliau tersebut merupakan sebab yang berkaitan dengan unsur politik,dan juga terdapatnya beberapa ulamak lain selain Imam Abu Hanifah yang enggan menjawat jawatan yang ditawarkan kepada mereka oleh golongan pemerintah tetapi tidak pula mereka diapa-apakan,antaranya ialah Al-Laits Bin Saad,yang mana ketika Abu Mansur meminta beliau menjadi qadhi tetapi beliau telah menolaknya dan beliau tidak diapa-apakan lansung.

Usul Mazhab Imam Abu Hanifah :

(1) Al-Quran Al-Karim : yang mana secara lazimnya ianya menjadi sumber hukum yang pertama dikalangan para fuqaha’.

(2) As-Sunnah Nabawiyah : iaitu sumber hukum di martabat yang kedua selepas Al-Quran,dan sesungguhnya beliau tidak begitu senang untuk mengambil sesuatu hadith itu sebagai sumber hukum,kerana di Iraq ketika itu ialah sarang memalsukan hadith,iaitu hadith yang sengaja dibohongkan atas nama rasulullah sallallahu alahi wassalam,disebabkan itulah beliau tidak akan mengambil sesuatu hadith sebagai sumber hukum melainkan jika hadith tersebut diriwayatkan oleh perawi yang ramai daripada perawi yang juga ramai yang mana keadaan para perawi tersebut tidak bersepakat sesama mereka untuk berbohong,yang dinamakan hadith mutawatir,atau pun hadith yang diriwayatkan oleh seorang perawi daripada rasulullah sallallahu alaihi wassalam kemudianya diriwayatkan pula dari perawi tersebut beberapa perawi yang ramai dari golongan tabieen,iaitu hadith yang dinamakan sebagai masyhur,manakala hadith ahad iaitu hadith yang diriwayatkan oleh seorang perawi atau dua orang atau lebih yang mana lebih sedikit daripada bilangan perawi hadith mutawatir,dan Imam Abu Hanifah tidak akan menerima hadith ahad ini melainkan jika ianya memenuhi syarat-syarat yang telah disyaratkan untuk diterima sebagai hujjah dan beramal denganya,dan diantara syarat yang paling penting bagi hadith ini ialah,perawi hadith tersebut mestilah seorang yang adil (3),terpercaya,tsabit dan mestilah berasa yakin untuk mengambil hadith yang diriwayatkanya itu dan juga hendaklah dia itu seorang yang mempunyai pengetahuan agama.

(3) Ijmak : jika beliau tidak menemui apa-apa nas bersumberkan dari Al-Quran juga As-Sunnah,beliau akan melihat pula hasil persepakatan para ulamak iaitu ijmak jika ianya ada,samada ijmak secara Soreh (4) atau Sukutiy (5),dan tanpa syak lagi ijmak para sahabat akan mendepani ijmak yang lain,kerana para sahabat berada bersama-sama rasulullah sallallahu alaihi wassalam ketika mana hukum-hakam tersebut diturunkan kepada rasulullah sallallahu alaihi wassalam,dan mereka juga mengetahui kejadian-kejadian yang telah diturunkan hukum-hakam keatasnya,dan disebabkan itu beliau beramal dengan ijmak para sahabat dan mendepankanya dari Qiyas pada perkara yang tidak boleh dihukum dengan menggunakan ra’yi,kerana urusan agama itu tidak diambil dari ra’yi (pendapat berdasarkan aqal semata-mata) dan beliau menganggap perkataan para sahabat itu ialah atsar dari rasulullah sallallahu alahi wassalam pada apa yang dinisbahkan kepada para sahabat.

Dan beliau tidak akan menerima perkataan para tabi’en melainkan jika perkataan tersebut bertepatan dengan ijtihad beliau,dan kadangkala beliau menggunakan pendapat yang tidak pernah diperkatakan langsung oleh golongan tabi’en,yang mana sebaliknya beliau tidak akan menggunakan pendapat yang bercanggahan juga menyimpang dari kata-kata para sahabat,dan beliau akan membawa pula pendapat yang baru jika tiadanya pendapat dari para sahabat.

(4) Al-Qiyas : Sesunguhnya Imam Abu Hanifah mengunakan qiyas secara meluas,disebabkan ketelitian beliau dalam menerima hadith dan terlalu memilih hadith makanya beliau beramal dengan qiyas secara meluas dan menjadikanya diantara asas yang utama daripada asas-asas syariah lain yang menjadi sumber hukum mazhab beliau.

(5) Al-Istihsan : iaitu suatu perkara yang terkeluar daripada lingkungan qiyas zahir dan masuk kepada hukum lain yang bercangah dengan qiyas zahir kerana wujudnya dalil yang membinanya dari nas,ijmak atau ‘Urf (adat) (6)

Imam Abu Hanifah mengatasi para fuqaha’ lain didalam penggunaan Al-Istihsan,dan istilah Al-Istihsan itu hanyalah digunakan oleh mazhab-mazhab lain selain Mazhab Hanafi,kerana didalam Mazhab Hanafi dipanggil sebagai Al-Istislah.

(6) Al-‘Urf : Imam Abu Hanifah menggunakan Al-‘Urf yang sahih iaitu Al-‘Urf yang terbina diatas hukum dan menjadikanya sebagai suatu qaedah untuk mengeluarkan hukum pada perkara feqh yang bersifat furu’ (cabang) dan beliau terkenal dengan kemahiran beliau didalam feqh hadith,yang mana beliau akan mencari kesahihan sesebuah hadith pertamanya,kemudianya jika beliau mendapati hadith tersebut sahih,maka beliau akan mengeluarkan hukum daripada hadith tersebut pada hukum-hakam feqh dengan kemahiran beliau yang tinggi,serta ketelitian yang menakjubkan.

Imam Abu Hanifah tidak hanya berlegar di lapangan Feqh yang berkisar pada kejadian semasa sahaja,begitu juga tidak hanya pada masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia sahaja,bahkan beliau dapat menyelesaikan masalah yang belum pun berlaku dizaman itu,yang mana beliau tidak akan menunggu sesuatu hukum itu sehingga ianya berlaku,menjadikan beliau ketua para fuqaha’ pada lapangan Feqh Al-Iftiradhi (7),yang mana ianya memberikan kelebihan yang besar kepada feqh islami untuk terus berkembang dan tersebar dan dapat meliputi segenap penjuru kehidupan.
Diriwayatkan daripada Sufyaan At-Tsauri,dia berkata : Sesungguhnya aku telah mendengar bahawa Abu Hanifah telah berkata suatu kata-kata yang adil lagi berhujjah : “Sesungguhnya aku mengambil ( mencari hukum) dari kitabullah itu jika aku mendapatinya,dan jika aku tidak mendapatinya,aku akan mengambil pula dari sunnah nabiNya,dan juga dari atsar-atsar yang sahih yang mana berlegar di kalangan para perawi yang terpercaya,dan jika aku tidak mendapatinya didalam kitabullah dan sunnah nabiNya itu,aku akan mengambilnya pula dari kata-kata para sahabat,aku akan mengambil kata-kata dari mereka yang aku mahu dan aku akan tinggalkan pula kata-kata yang aku mahu,tetapi aku tidak akan keluar dari kata-kata mereka dan mencari kata-kata selain mereka,jika aku sudah melihat kata-kata dari Ibrahim,As-Sya’biy,Al-Hasan dan Ibnu Sirin begitu juga Saed Al-Musayyab serta beberapa perawi lagi yang telah berijtihad,maka aku akan berijtihad sepertimana mereka telah berijtihad”.

( Bersambung.......)