Isnin, 24 Ogos 2015

Hukum ANAK ANGKAT dalam Islam

Catatan: Quran dan Sunnah


PERTANYAAN:

Bolehkah menjadikan anak orang lain sebagai anak angkat dalam keluarga kita di mana kita menganggapnya seperti anak sendiri? Lalu bagaimana hijab dengannya bila si anak sudah baligh?

JAWAPAN:

Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullahu menjawab permasalahan yang seperti ini dengan pernyataan beliau, “Dahulu di jaman jahiliah, orang-orang yang mengangkat anak memperlakukan anak angkat mereka seperti anak mereka yang hakiki atau seperti anak kandung dari segala sisi; dalam hal warisan, dalam hal bolehnya anak angkat tersebut berkhalwat (bersepi-sepi) dengan istri mereka, dan dianggapnya istri mereka sebagai mahram bagi anak angkat tersebut.

Adalah Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, maula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di masa sebelum beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat sebagai nabi, dipanggil dengan Zaid bin Muhammad (karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkatnya sebagai anak). Maka Allah ‘Azza wa Jalla berkehendak untuk menghapuskan semua anggapan orang-orang jahiliah tersebut berkaitan dengan anak angkat. Datanglah syariat Islam dalam masalah anak angkat ini berikut hukum-hukumnya yang tegas sebagaimana tersebut berikut ini:

1. Menghapus dan melarang adanya anak angkat yang dianggap sebagai anak yang hakiki dalam segala sisi, berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ۚذَ‌ٰلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ ۖ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ

Dan Allah sekali-kali tidak menjadikan anak-anak angkat kalian sebagai anak kandung kalian sendiri. Yang demikian itu hanyalah perkataan kalian di mulut kalian saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan yang benar. Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah. Dan jika kalian tidak mengetahui bapak-bapak mereka maka panggillah mereka sebagai saudara-saudara kalian seagama dan maula-maula kalian….” (Al-Ahzab: 4-5)

Dalam ayat-ayat di atas, Allah ‘Azza wa Jalla menerangkan bahwa ucapan seseorang kepada anak orang lain dengan “anakku” tidaklah berarti anak tersebut menjadi anaknya yang sebenarnya yang dengannya ditetapkan hukum-hukum bunuwwah (anak dengan orangtua kandungnya). Bahkan tidaklah mungkin anak tersebut bisa menjadi anak kandung bagi selain ayahnya. Karena, seorang anak yang tercipta dari sulbi seorang lelaki tidaklah mungkin ia dianggap tercipta dari sulbi lelaki yang lain, sebagaimana tidak mungkinnya seseorang memiliki dua hati/jantung1. Dan Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan kita agar mengembalikan penasaban anak-anak angkat tersebut kepada ayah kandung mereka, bila memang diketahui siapa ayah kandung mereka. Bila tidak diketahui maka mereka adalah saudara-saudara kita seagama dan maula kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala beritakan bahwa yang demikian ini lebih adil di sisi-Nya.

2. Memutuskan
dengan ayah angkatnya. Hal ini terkandung dalam ayat-ayat yang telah dibawakan di atas2. Juga disebutkan bahwa dalam perkara hubungan waris antara anak angkatanak angkat, Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat:

وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ فَآتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ

Dan jika ada orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bagiannya3.” (An-Nisa’: 33)

Ibnu Jarir rahimahullahu mengeluarkan riwayat dari Sa’id ibnul Musayyab rahimahullahu yang menyatakan, “Ayat ini hanyalah turun terhadap orang-orang yang dulunya menganggap anak pada selain anak kandung mereka dan mereka memberikan warisan terhadap anak-anak angkat tersebut. Maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat dalam perkara mereka. Untuk anak-anak angkat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan bagian dari harta (orangtua/ayah angkat mereka) dalam bentuk wasiat4, sementara warisan dikembalikan kepada yang berhak dari kalangan dzawil arham5 dan ‘ashabah6. Allah ‘Azza wa Jalla meniadakan adanya hak waris dari orangtua angkat untuk anak angkat mereka, namun Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan adanya bagian harta untuk anak angkat tersebut dalam bentuk wasiat.”7
 
زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ ۖ فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا

“Kami nikahkan dia denganmu agar tidak ada keberatan bagi kaum mukminin untuk menikahi istri-istri anak angkat mereka apabila anak angkat tersebut telah menyelesaikan urusan dengan istri-istri mereka (telah bercerai).” (Al-Ahzab: 37)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam ayat yang menyebutkan tentang wanita-wanita yang haram dinikahi:

وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ
  
“…dan istri-istri dari anak-anak kandung kalian….” (An-Nisa’: 23)
Berarti dikecualikan dalam hukum pengharaman tersebut para istri anak-anak angkat (boleh dinikahi oleh ayah angkat suaminya bila mereka telah bercerai).

4. Keharusan istri ayah angkat untuk berhijab dari anak angkatnya, sebagaimana ditunjukkan dalam kisah Sahlah bintu Suhail istri Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, tatkala Sahlah datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menyatakan, “Wahai Rasulullah, kami dulunya menganggap Salim seperti anak kami sendiri. Sementara Allah telah menurunkan ayat tentang pengharaman anak angkat bila diperlakukan seperti anak kandung dalam segala sisi. Padahal Salim ini sudah biasa masuk menemuiku (tanpa hijab)….”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menetapkan kepada Sahlah ketidakbolehan ikhtilath dengan anak angkat setelah turunnya ayat Al-Qur’an tersebut. Jalan keluarnya, beliau menyuruh Sahlah agar memberikan air susunya kepada Salim, dengan lima susuan yang dengannya ia menjadi mahram bagi Salim (yakni sebagai ibu susu, pent.)

5. Ancaman yang ditekankan dan peringatan yang keras bagi orang yang menasabkan dirinya kepada selain ayah kandungnya. Dalam hal ini ada ayat Al-Qur’an yang di-mansukh (dihapus) bacaannya namun hukumnya tetap berlaku, yaitu:

وَلَا تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ فَإِنَّهُ كُفْرٌ بِكُمْ أَنْ تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ

“Dan janganlah kalian benci (untuk bernasab) dengan bapak-bapak kalian karena sungguh itu adalah kekufuran bila kalian benci (untuk bernasab) dengan bapak-bapak kalian.”

Al-Imam Ahmad rahimahullahu meriwayatkan dari Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

كُنَّا نَقْرَأُ: وَلاَ تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ فَإِنَّهُ كُفْرٌ بِكُمْ أَنْ تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ

Kami dulunya membaca ayat: “Dan janganlah kalian benci (untuk bernasab) dengan bapak-bapak kalian karena sungguh itu adalah kekufuran bila kalian benci (untuk bernasab) dengan bapak-bapak kalian.”
Dalam hadits yang shahih dinyatakan:

مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيْهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيْهِ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ

Siapa yang mengaku-aku bernasab kepada selain ayahnya dalam keadaan ia tahu orang itu bukanlah ayah kandungnya maka surga haram baginya.”8

Tersisa sekarang dua perkara dalam masalah menyebut anak pada selain anak kandung dan penasaban kepada selain ayah kandung. Kita akan sebutkan berikut ini:

Pertama: Apabila seseorang memanggil seorang anak dengan panggilan/sebutan ‘anakku’ (padahal bukan anaknya yang sebenarnya) untuk memuliakan dan menyatakan kecintaannya kepada si anak, hal ini tidaklah termasuk dalam larangan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

قَدَّمَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُغَيْلِمَةَ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَلَى حُمُرَاتٍ لَنَا مِنْ جَمْعٍ، فَجَعَلَ يَلْطَخُ أَفْخَاذَنَا 
وَيَقُوْلُ: أُبَيْنـِيَّ –تَصْغِيرُ ابْنِي– لاَ تَرْمُوا الْجُمْرَةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ

(Pada malam Muzdalifah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengedepankan kami anak-anak kecil dari Bani Abdil Muththalib (lebih awal meninggalkan tempat tersebut/tidak mabit, pent.) di atas keledai-keledai kami. Mulailah beliau memukul dengan perlahan paha-paha kami seraya berkata, “Wahai anak-anakku, janganlah kalian melempar jumrah sampai matahari terbit.”9

Ini dalil yang jelas sekali, karena Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma ketika hajjatul wada’ (haji wada’) berusia sepuluh tahun.

Kedua: Orang yang sudah terlalu masyhur dengan sebutan yang mengandung penasaban kepada selain ayahnya, seperti Al-Miqdad ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu yang lebih masyhur dengan Al-Miqdad ibnul Aswad, di mana hampir-hampir ia tidak dikenal kecuali dengan penasaban kepada Al-Aswad ibnu Abdi Yaghuts yang di masa jahiliah mengangkatnya sebagai anak, maka ketika turun ayat yang melarang penasaban kepada selain ayah kandung, disebutlah Al-Miqdad dengan ibnu ‘Amr. Namun penyebutannya dengan Al-Miqdad ibnul Aswad terus berlanjut, semata-mata sebagai penyebutan bukan dengan maksud penasaban. Yang seperti ini tidak apa-apa sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Qurthubi, dengan alasan yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu bahwa tidak pernah didengar dari orang terdahulu yang menganggap orang yang dipakaikan baginya sebutan tersebut telah berbuat maksiat.10”. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Fatawa wa Rasa’il Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh, 9/21-25, sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, hal. 889-891)

Catatan kaki:

1 Awal ayat di atas berbunyi:
مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ
Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua hati/jantung dalam rongganya….” (Al-Ahzab: 4)

2 Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam ayat ke 6 surah Al-Ahzab:
وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ
Dan orang-orang yang memiliki hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin (yang lain yang tidak punya hubungan darah) dan orang-orang Muhajirin….”

3 Awal ayat ini adalah:
وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ
“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya….”

4 Wasiat di sini tidak lebih dari 1/3 harta si mayit.

5 Dzawil arham adalah semua kerabat mayit yang tidak mendapat bagian fardh dan ta’shib dari harta warisan.

Ahli waris terbagi dua:
– Ada yang mendapat bagian warisan dengan fardh yaitu ia mendapat bagian yang tertentu kadarnya, seperti setengah atau seperempat.
– Ada yang mendapat bagian warisan dengan ta’shib yaitu kadarnya dari warisan tidak ada penentuannya.

6 ‘Ashabah adalah kerabat mayit yang mendapat bagian dari harta warisan tanpa ada batasan tertentu, bahkan bila dia cuma sendirian, dia berhak mendapat semua harta si mayit.

7 Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, 4/57.

8 HR. Al-Bukhari no. 4326 dan Muslim no. 217.

9 Dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu

10 Tafsir Al-Qurthubi, 14/80.


Selasa, 23 Jun 2015

Solat Sunat Tarawih Lapan Rakaat



Solat Tarawih hanya dilakukan pada malam bulan Ramadhan sahaja. Solat Tarawih dalam bulan Ramadhan (Qiyam Ramadhan) ialah solat Tahajjud atau ‘shalatullail’ (solat malam)yang dilakukan pada malam-malam bulan lainnya.

Tarawih ertinya beristirehat. Maka solat ini dilaksanakan berselang-seli dengan ‘berehat seketika’, Tujuan berhenti rehat sekejap adalah untuk memperolehi keikhlasan dan memberikan ketenangan kepada mereka yang bersolat, khususnya kepada warga emas disamping mengelakkan ketegangan badan selepas berbuka puasa.

Solat Sunat Tarawih ialah ibadat tambahan yang dilakukan dalam keadaan tenang dan tidak tergopoh-gapah. Ia satu cara untuk menunjukkan keikhlasan, kebaktian dan ketaatan kepada Allah SWT.

Jesteru itu Rasulullah SAW menyuruh ia dilakukan mengikut kemampuan, keikhlasan dan kerelaan. Sekiranya tidak mampu melakukan 20 rakaat disebabkan tugas mahu pun kesihatan, memadai dengan lapan rakaat sahaja..

Sunnah Rasulullah SAW.

Bilangan rakaat Solat Sunat Tarawih yang biasa dilakukan Rasulullah SAW adalah 11 rakaat; terdiri dari 8 rakaat solat Tarawih dan 3 rakaat Solat Sunat Witir. Jumlah ini dipilih oleh kebanyakan umat Islam Malaysia.

.
Solat sunat Ramadhan lapan rakaat oleh Rasulullah SAW, seperti yang dilihat oleh Aisyah r.a. di rumah, adalah yang minimum kerana Baginda SAW memanjangkan rakaatnya.
.
Abu Salamah r.a pernah bertanya kepada Aisyah r.a tentang solat malam Rasulullah SAW di bulan Ramadhan. Aisyah menjawab: “Rasulullah SAW tidak pernah menambah rakaat solatnya di bulan Ramadan dan atau bulan lain melebihi sebelas rakaat. Baginda solat empat rakaat, jangan engkau tanya betapa bagus dan panjangnya solat baginda. Kemudian, baginda solat empat rakaat, jangan engkau tanya betapa bagus dan panjangnya solat baginda. Kemudian, baginda solat tiga rakaat (witir).” – Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Sahihnya, no: 1147.
.
Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah r.h menyatakan di dalam kitabnya Majmu’ al-Fatawa, mengenai solat qiyam Ramadan (solat Tarawih); “Nabi SAW tidak pernah menetapkan jumlah rakaatnya. Namun, baginda sendiri tidak pernah mengerjakannya melebihi 11 atau 13 rakaat sama ada pada bulan Ramadan atau bulan lain. Baginda melakukan solat qiyam dengan memanjangkan rakaatnya.”
.
Aishah r.a. meriwayatkan lagi; Rasulullah SAW solat (Tarawih) empat rakaat pada waktu malam, setelah itu beristirehat. Baginda duduk lama sehingga saya kasihan melihatnya. Saya berkata kepadanya: “Demi Allah wahai Rasulullah! Dosa-dosamu telah diampuni Allah, sama ada dosa yang terdahulu dan yang terkemudian; maka untuk apakah tuan bersusah payah solat seperti ini?”
Baginda SAW menjawab: “Bukankah lebih baik kalau aku menjadi hamba yang bersyukur?”.

Cara Agihan Solat Lapan Rakaat.

 

  1. Biasanya Solat SunatTarawih dilakukan sebanyak lapan rakaat yang dipisahkan kepada 2 rakaat demi 2 rakaat (4 kali 2 rakaat) dengan setiap dua rakaat satu salam.
  2. Solat SunatTarawih ini juga boleh dikerjakan empat rakaat – empat rakaat (2 kali 4 rakaat), iaitu sebagaimana tatacara solat fardhu yang empat rakaat iaitu dengan dua tahiyat.
  3. Boleh juga dikerjakan sebanyak empat rakaat sekaligus dengan hanya satu tahiyat dan sekali salam sahaja. Sekiranya ingin dilaksanakan dengan hanya satu tahiyat maka setiap rakaat hendaklah dibaca surah-surah atau ayat-ayat dari al-Qur’an.
#  Setiap cara Solat Sunat Tarawih di atas, hendaklah di akhiri dengan tambahan 3 rakaat Solat Sunat Witir, boleh sama ada dilakukan dengan dua salam atau satu salam Witir sahaja.
.
Malah, ia juga boleh digabungkan dengan hanya satu rakaat Solat Sunat Witir.

Abdullah bin Umar r.a berkata: “Sesungguhnya seorang lelaki berkata: Wahai Rasulullah! Bagaimanakah cara melakukan solat malam? Baginda bersabda: “Dua rakaat dua rakaat. Apabila engkau bimbang (waktu solat Subuh akan masuk), laksanakan terus solat witir sebanyak satu rakaat.” – Hadis riwayat al-Bukhari dalam kitab Sahihnya, no: 1137.

Aisyah r.a berkata: “Biasanya Nabi s.a.w solat di malam hari sebanyak 13 rakaat termasuk witir dan dua rakaat solat sunat fajar (solat sunat sebelum fardu Subuh). – Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Sahihnya, no: 1140..

Bacaan Surah.

Sesudah membaca Al Fatihah pada setiap rakaat, lalu membaca ayat-ayat atau surah daripada Al Quran, tidak kira pendek atau panjang, atau berulang-ulang, asalkan bacaan itu betul dan solat ini dibuat dengan cermat..
  1. Sebaik-baik surah yang dibaca selepas al-Fatihah pada solat Tarawih ialah satu juzuk daripada al-Quran pada setiap malam seperti kelaziman seseorang yang hafaz al-Quran (al-Hafiz).
  2. Setelah membaca surah Al-Fatihah, bacalah sebarang surah lazim yan diketahui. Pada raka’at kedua ada baiknya membaca surah al-Ikhlas 3 kali.
  3. Kebanyakan orang biasanya hanya membaca surah-surah lazim. Berikut adalah cara tersusun membaca surah lazim Solat Sunat Tarawih lapan rakaat;
.
Jadual Surah Solat Tarawih Lapan Rakaat
Rakaat
Surah
Pertama
At Takaatsur
Kedua
Al Ashry
Ketiga
Al Humazah
Keempat
Al Fiil
Kelima
Al Quraisy
Keenam
Al Ma’uun
Ketujuh
Al Kautsar
Kelapan
Al Kaafiruun
.

Cara Melakukan Solat Sunat Tarawih Lapan Rakaat.

Cara melakukan solat Tarawih sama seperti solat sunat yang lain. Solat Tarawih dilaksanakan setiap dua rakaat satu salam, ini berlandaskan kepada hadis: “Solat malam (solat Tarawih) adalah dua rakaat, dua rakaat.” (Riwayat Jamaah)
.
1.  Niat:
.
.
2.  Bacaan Selawat, Tasbih dan Doa Solat Tarawih
.
1.  Setelah selesai melakukan solat fardu dan solat sunat Ba’diah Isyak, maka Bilal memulakan Solat Tarawih dengan menyeru:

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْمَعْبُوْدِ

Maha Suci Tuhan Pemiliki (alam) yang disembah (dipatuhi),
 .
2.  Bilal dan jamaah sama-sama membaca:

.
.
3.  Bilal menyeru dengan lafaz bagi permulaan mendirikan solat sunat Tarawih;

.
.
4.  Imam dan jamaah sama-sama mendirikan 2 rakaat pertama solat sunat Tarawih;
Bacaan selepas Surah Al-Fatihah:
Raka’at pertama: Surah At Takaatsur
Raka’at kedua: Surah Al Ashry
.
5. Setelah memberi salam pada akhir rakaat ke-2; Bilal dan jamaah bersama-sama mengucapkan zikir dberikut:

.
.
6.  Imam dan jamaah bersama-sama mendirikan solat sunat Tarawih untuk rakaat ke 3 dan 4;
Bacaan selepas Surah Al-Fatihah:
Raka’at ketiga: Surah Al Humazah
Raka’at keempat: Surah  Al Fiil
.
7.  Setelah memberi salam pada akhir rakaat ke-4; Bilal dan jama’ah membaca Tasbih dan Selawat:

.
.
8.  Diikuti dengan Imam membaca doa berikut:

.
.
9.  Sebelum mendirikan 4 rakaat lagi, bilal dan jamaah membaca kalimat:

.
.
10. Imam dan jamaah sama-sama meneruskan Solat Sunat Tarawih rakaat yang ke 5 dan 6;
Bacaan selepas Surah Al-Fatihah:
Raka’at kelima: Surah Al Quraisy
Raka’at keenam: Surah  Al Ma’uun
.
.
11. Setelah memberi salam pada akhir rakaat ke-6; Bilal dan jamaah bersama-sama mengucapkan zikir dberikut:

.
.
12.  Imam dan jamaah bersama-sama meneruskan solat sunat Tarawih untuk rakaat ke 7 dan 8;

Bacaan selepas Surah Al-Fatihah:
Raka’at ketujuh: Surah Al Kautsar
Raka’at kelapan: Surah  Al Kaafiruun
.
.
13.  Setelah memberi salam pada akhir rakaat ke-8 (akhir); Bilal dan jama’ah membaca Tasbih dan Selawat:


.
.
14.  Apabila selesai mendirikan 8 raka’at Solat Tarawih, membaca doa berikut;.

Doa Solat Tarawih.

Doa Selepas Solat Sunat Tarawih
Maksud Erti Doa Selepas Solat Sunat Tarawih
.
Doa Tambahan Selepas Solat Sunat Tarawih 1
.
Doa Tambahan 10 Malam Terakhir Solat Sunat Tarawih
.

Solat Sunat Witir.

Setelah selesai Solat Tarawih, teruslah dirikan solat sunat Witir. Bilal menyeru:

صَلاَةُ الْوِتْرِ اَثَابَكُمُ اللهُ.

Lakukanlah solat Witir, mudah-mudahan Allah memberi pahala kepada kamu!.
.

Cara Melaksanakannya

      .
1.  Lafaz niatnya pada setiap dua rakaat pertama:


.
.
2.  Bacaan selepas Fatihah:
Raka’at pertama: Surah Al-A’laa
Raka’at kedua: Surah  Al-Kafiruun
.
.
3.   Sesudah salam, Bilal membacakan selawat;

.
.
4.   Jemaah terus berdiri untuk mengerjakan satu lagi raka’at Witir. Lafaz niat pada satu rakaat terakhir:
.
.
5.   Selepas bacaan al-Fatihah, pada raka’at terakhir, dibaca pula surah;
Al-Ikhlas,
Al-Falaq dan
An-Naas.
.
.
6.   Bemula malam 16 Ramadhan, disunatkan membaca  Doa Qunut sebelum melakukan sujud petama.

.
.
7.   Selesai mengerjakan Solat Witir disunatkan mengucapkan:

.
.
8.   Boleh dibaca doa-doa berikut:

.
.

والسلام

by;
shafiqolbu

Ahad, 22 Februari 2015

Masalah Sempadan Kariah Masjid


Persoalannya...

1) Apakah kepentingan sempadan kariah masjid ini?.
 2) Adakah ia ada saranan dari al-Kitab & al-Hadis mengenai perkara ini?.
3) Boleh tuan panel berikan beberapa pandangan ulamak mengenai perkara ini?.


Huraian:


Sebenarnya persoalan kariah ini adalah berkait rapat dengan keperluan pembinaan masjid dalam sesuatu kawasan.

Pihak kerajaan menetapkan satu masjid untuk satu kariah atas dasar untuk mengelakkan daripada berlakunya perpecahan dan kekurangan jamaah ketika menunaikan solat dalam satu-satu masa.

Pada asasnya , pembinaan sesebuah masjid itu mestilah atas sebab2 berikut :

1. Pembinaannya berdasarkan keperluan yang mendesak ,seperti kawasan tersebut terlalu ramai penduduk sehingga menyebabkan masjid yang sedia ada tidak dapat menampung.Sebab itu di tanah arab , banyak masjid yang dibina berdekatan.Ini kerana penduduk pada sesuatu kawasan tersebut padat dan ramai.

2. Pembinaannya bukanlah bertujuan untuk memecah belahkan umat islam , sepertimana pembinaan Masjid Dhirar oleh golongan munafik yang bertujuan menghalang umat Islam menunaikan solat dan menghadiri majlis Ilmu yang disampaikan oleh Rasulullah saw.

3. Pembinaannya tidak membawa kepada suatu pembaziran.Ini kerana pembinaan masjid yang banyak pada sesuatu kawasan sedangkan ahli jamaahnya terlampau sedikit adalah satu perbuatan yang sia-sia dan tidak berfaedah.Malah tidak mustahil masjid2 yang kosong ini akan dicemari oleh ternakan dan menjadi sarang-sarang penagih dsb.

Maka berdasarkan kepada penerangan di atas , menyebabkan pihak pemerintah membuat persempadanan dalam sesuatu kariah atau kawasan.Pendek kata , pembinaan masjid dalam Islam memerlukan kepada perancangan rapid an mengambil kira keperluan setempat berdasarkan batas-batas yang dibenarkan syarak.

Ruj :
Himpunan Isu-Isu Feqah Terpilih , Dr.Basri bin Ibrahim Al-Hasani Al-Azhari.

Ahad, 18 Januari 2015

50 Ciri Dan Tanda Orang Munafiq

.

Banyak perkara yang boleh menjerumuskan seseorang ke dalam sifat kemunafikan. Antaranya, berikut disenaraikan 50 ciri dan tanda orang munafiq tersebut:

1. Lupa Kepada Allah SWT 
Orang-oang munafiq sering mengingati sesuatu kecuali Allah SWT. Dalam fikiran dan batin mereka tidak pernah terlintas untuk mengingat (zikir) Allah SWT, kecuali sebagai suatu helah penipuan sahaja.

2. Mempercepat Solat Agar Segera Selesai
Mereka (orang2 munafik) adalah orang yang mempercepatkan solat tanpa ada rasa khusyuk sedikit pun. Tidak ada ketenangan dalam mengerjakannya, dan hanya sedikit mengingat Allah SWT di dalamnya. Fikiran dan hatinya tidak menyatu. Dia tidak menghadirkan keagungan, kehebatan, dan kebesaran Allah SWT dalam solatnya.
Hadis Nabi SAW:  “Itulah solat orang munafik…lalu mempercepat empat rakaat (solatnya).” 

3. Malas Beribadah Kepada Allah SWT
Firman Allah SWT:  “…Dan apabila mereka berdiri untuk solat, mereka berdiri dengan malas…”  (An-Nisa’: 142)
Jika orang munafik pergi ke masjid/surau, dia menyeret kakinya seakan-akan terbelenggu rantai. Oleh kerana itu, ketika sampai di dalam masjid/surau dia memilih duduk di shaf yang paling akhir. Dia tidak mengetahui apa yang dibaca imam dalam solat, apa lagi untuk menyemak dan menghayatinya.

4. Melalaikan Solat Fardu
Firman Allah SWT:  Maka kecelakaanlah bagi orang-orang solat, (iaitu) orang-orang yang lalai dari solatnya.” (SurahAl-Ma’un : ayat 4-5)

5 Meninggalkan Solat Jumaat
Rasulullah SAW ketika baginda sedang berkhutbah di atas mimbar, sabdanya:
“Hendaklah orang-orang yang suka meninggalkan Jumaat menghentikan perbuatan mereka itu, atau adakah mereka mahu Allah membutakan hati mereka dan sesudah itu mereka betul-betul menjadi orang yang lalai?” (Hadis Riwayat  Muslim r.a.)

6. Meninggalkan Solat Berjemaah
Apabila seseorang itu segar, kuat, mempunyai waktu terluang dan tidak memiliki uzur syari’i, namun tidak mahu mendatangi masjid/surau ketika mendengar panggilan azan, maka saksikanlah dia sebagai orang munafik.

7. Menghina Nabi dan Sahabat Rasullullah SAW
Termasuk dalam kategori Istihzaa’ (berolok-olok) adalah mempersendakan hal2 yang disunnah Rasulullah SAW dan amalan-amalan lainnya. Orang yang suka memperolok-olok dengan sengaja hal-hal seperti itu, Jatuh Kafir.
Firman Allah SWT:  “…Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah SWT, Ayat-Ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, kerana kamu kafir sesudah beriman…”  (At-Taubah: 65-66)

8. Mengubah Dan Menyalahguna Ayat-Ayat Allah
Menggunakan dalil dan ayat Al-Quran untuk kepentingan diri semata-mata. Menjadi perosak agama di atas nama agama.

9. Mempersenda Kesucian Agama
Perbuatan mempersenda kesucian Allah dan agama Islam adalah suatu yang amat dibenci dan dilarang dalam Islam kerana ianya seolah-olah menentang sesuatu yang diturunkan Allah.

10. Bersumpah Dengan Selain Nama Allah SWT
Dan dalam hadis Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma; “Sesiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka dia telah berbuat syirik.” (Hadis riwayat Imam Ahmad)
Dalam hadits lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesiapa bersumpah demi amanat, maka dia tidak termasuk golonganku.” (Hadis riwayat Abu Daud)

11. Sombong Diantara Sesama Manusia
Orang2 munafik selalu sombong dan angkuh dalam berbicara. Mereka banyak cakap dan suka memfasih-fasihkan ucapan. Setiap kali berbicara, mereka akan selalu mengawalinya dengan bila ungkapan menakjubkan yang meyakinkan agar nampak seperti orang mulia, hebat, berwawasan luas, mengerti, berakal, dan berpendidikan. Padahal, pada hakikatnya dia tidak memiliki kemampuan apa pun. Sama sekali tidak memiliki ilmu bahkan lagi terserlah kemunafikannnya.

12. Riak
Berbuat sesuatu atau meninggalkan sesuatu kerana selain daripada Allah SWT dikategorikan sebagai riak. Apabila bersama orang lain dalam suatu majlis, dia nampak zuhud dan berakhlak baik, demikian juga pembicaraannya. Namun, jika dia seorang diri, dia akan melanggar hal-hal yang diharamkan Allah SWT.

13. Melampaui Batas Yang Telah Digariskan Oleh Allah
Perbuatan yang menurut kehendak nafsu sehingga boleh tersesat dan menyesatkan pada jalan yang benar sebagaimana Yahudi dan Nasrani.

14. Suka Berbantah Dan Bertengkar Sesama Muslim
Sabda Rasulullah SAW:  “Dan apabila bertengkar (berbantah), dia melampau.” 

15. Fitnah
Menyampaikan keburukan orang lain di kalangan orang ramai supaya mereka membenci atau memusuhinya. Membuat laporan tanpa fakta dan usul periksa serta mengada-adakan cerita. Ia juga tergolong dalam sifat-sifat munafik dan dosa-dosa besar.

16. Mencaci Maki
Tidak berhikmah di dalam berkata-kata dan dalam menyampaikan dakwah. Menggunakan kata-kata kesat terhadap orang lain terutama yang tidak bersependapat dengannya.
Firman Allah SWT:  “…mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan…”  (Al-Ahzab: 19)

17. Mengumpat
Berkata dan menyampaikan sesuatu keburukan orang lain yang tidak benar adalah berdosa kerana ia berupa fitnah. Akan tetapi berkata tentang keburukan orang lain yang benar tetap juga mendapat dosa iaitu dosa mengumpat.

18. Hasad Dengki
Tidak senang dengan kejayaan orang lain. Tidak senang juga jika sesuatu kejayaan itu terhasil di tangan orang lain dan bukan oleh tangannya sendiri.

19. Dusta
Hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Ahmad Musnad dengan sanad Jayid:“Celaka baginya, celaka baginya, celaka baginya. Iaitu seseorang yang berdusta agar orang-orang tertawa.” 

Di dalam kitab Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim), Rasulullah SAW bersabda: “Tanda orang munafik ada 3, salah satunya adalah jika berbicara dia dusta.” 

20. Mungkir Janji
Sabda Rasulullah SAW:  “Tanda orang munafik ada 3: jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika dipercaya (diberi amanat) dia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

21. Bakhil
Orang2 munafik sangat bakhil dalam masalah2 kebajikan. Mereka menggenggam tangan mereka dan tidak mahu bersedekah atau menginfakkan sebahagian harta mereka untuk kebaikan, padahal mereka orang yang mampu dan berkecukupan.

22. Mengungkit Kembali Pemberian Kepada Seseorang Dan Menyakiti Hatinya.
Mengungkit kembali pemberian kepada orang lain dengan harapan dikenang jasa dan sumbangannya serta ingin menyakiti hati orang lain. Perbuatan ini dicela didalam Islam bahkan menghilangkan pahala ikhlas.

23. Enggan Berjihad Di Jalan Allah SWT
“Kalau kamu melakukan perdagangan dengan riba, hanya menjadi penternak-penternak dan gembira hanya dengan bertani saja dan meninggalkan jihad (perjuangan) maka Allah akan menimpakan kehinaan atasmu. Kamu tidak dapat melucutkan kehinaan itu sehingga kamu kembali kepada Ad dienmu.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

24. Menyembunyikan Ilmu Pengetahuan
Orang-orang yang memiliki ilmu dan apabila ditanya orang lain sedang dia mengetahui persoalan yang ditanyakan itu tetapi tidak menjelaskannya. Ini merupakan perbuatan yang menghalang kemajuan ummat Islam dan dapat menutup kebenaran.

25. Mengkhianati Sesuatu Amanah
Diberi amanah tetapi menyalahgunakan kuasa dan mengkhianati amanah.
Sabda Rasulullah SAW: “Dan apabila berjanji, dia berkhianat.” Sesiapa  memberikan janji kepada seseorang, atau kepada isterinya, anaknya, sahabatnya, atau kepada seseorang dengan mudah kemudian dia mengkhianati janji tersebut tanpa ada sebab uzur syar’i maka telah hinggap pada dirinya salah satu tanda kemunafikan.

26. Ghasab
Ghasab ialah mengambil atau menguasai harta (tanah) orang lain dengan jalan aniaya, iaitu jalan yang tidak diredhai Islam. Perbuatan ini walaupun dengan mengambil cuma sedikit, adalah termasuk perbuatan dosa besar dan munafik.

27. Memakan Harta Anak Yatim
Orang yang mengambil dan menggunakan harta anak yatim serta orang yang tidak amanah di dalam mentadbir harta anak yatim. Berselindung di atas nama pemegang amanah akan tetapi menggunakan harta anak yatim untuk kepentingan diri sendiri ataupun orang lain hukumnya berdosa besar.

28. Menipu Dalam Jual Beli
Perbuatan menipu ini adalah melibatkan amalan timbang atau sukat sesuatu barang tanpa kadar yang mencukupi atau menjual barangan yang rosak dimana, menimbulkan rasa kecewa dan tidak puas hati pembeli pada akhirnya.

29. Menangguh Pembayaran Hutang
Hutang adalah wajib dibayar. Sabda Rasulullah SAW: “Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, seandainya seorang laki-laki terbunuh di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi, lalu dia terbunuh lagi dua kali, dan dia masih ada hutang, maka dia tidak akan masuk syurga sampai hutang itu dilunaskan.” (HR. Ahmad)

30. Membuka Rahsia Orang Lain
Suka mencari-cari keaiban dan rahsia orang lain dan kemudian menyebarkan dan mewar-warkan keburukan dan kelemahan itu samada di dalam majlis rasmi dan kuliah ataupun dengan cara menyampaikan daripada individu kepada individu.

31. Bergaul Dengan Orang Yang Memperolok Al-Quran
Firman Allah SWT:   “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu meminta maaf, kerana kamu telah kafir sesudah beriman.”  (Surah At-Taubah; ayat 65-66).

32. Berasa Aman Daripada Murka Allah Apabila Melakukan Dosa
Apabila seseorang melakukan dosa dan merasa selamat dari kemurkaan dan seksaan Allah, maka anggapan ini adalah berdosa besar dan amalan orang-orang munafik.

33. Bermuka-Muka
Sikap penuh kepura-puraan menjadi musuh kerana sifatnya menjadi gunting dalam lipatan, api dalam sekam, duri dalam daging, talam dua muka, gergaji dua mata dan lidah bercabang dua. Sesungguhnya suatu yang paling ditakuti terhadap apa yang aku takut menimpa ummatku ialah semua munafiqin yang petah lidahnya.

34. Memanggil Orang Dengan Gelaran Buruk Yang Tidak Disukai
Panggilan yang buruk ialah gelaran-gelaran yang tidak disukai oleh orang yang digelari dengan gelaran itu, seperti panggilan hai fasiq, hai kafir, hai pelacur, hai penjudi, dan lain-lain. Lebih-lebih lagi sekiranya orang tersebut sememangnya beriman dan telah bertaubat.
“Orang-orang yang beriman seperti satu jasad, sekiranya satu anggotanya merasa sakit maka seluruh tubuhnya akan merasakan sakitnya dan demam.” (Ibnu Jarir)
Firman Allah SWT:   “Neraka Wail (kecelakaaan yang amat besar) bagi setiap Luzamah (orang yang mencela dengan ucapan) dan Huzamah (orang yang mencela dengan perbuatan).” (Surah Al Humazah: 1)

35. Menuduh Orang Beriman Bodoh
Orang Munafik mempunyai pendirian yang lemah dan amat sedikit memiliki ilmu pengetahuan tentang perjara yang bermanfaat dan memudharatkan. Justeru, mereka menuduh orang beriman bodoh atau kurangf ilmu pengetahaun dalam urusan kehidupan.

36. Memutuskan Silaturrahim
Memisah dan merosakkan hubungan silaturahim, merosakkan hubungan sesama keluarga, sahabat handai, sesama jemaah ataupun organisasi mahupun sesama masyarakat.

37. Memecahbelahkan Perpaduan Kaum Muslimin
Menjadi batu api serta membuat laporan dan menaburkan fitnah sehingga berlaku perpecahan dan hilang kasih sayang di kalangan sesama umat Islam.

38. Menyembunyikan Persaksian Pada Jalan Yang Benar
Sebagai orang yang beriman,umat Islam tidak seharusnya sedia menjadi saksi yang palsu atau dusta dalam member keterangan bagi menyelesaikan sesuatu perkara pada jalan yang benar.Justeru itu,berdusta ketika menjadi saksi adalah golongan orang-orang munafik dan dibenci oleh Allah SWT.
“Dan janganlah kamu menyembunyikan perkara yang dipersaksikan itu. Dan sesiapa menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya. Dan Allah SWT Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah:283)
39. Menghalalkan Perkara Yang Haram
Menjadikan matlamat sebagai sasaran utama sehinggakan sanggup melanggar batas aqidah, syariat dan akhlak. Matlamat tidak menghalalkan cara.

40. Menyanjung Dan Memuji Orang Tanpa Diketahui Keadaan Sebenarnya

41. Membazir Dalam Memanfaatkan Nikmat Allah
Membuat sesuatu perkara dan keputusan kemudian merubah semula dalam masa yang singkat, umpama membina rumah kemudian diruntuhkan semula.

42. Melakukan Dosa Dan Kemungkaran Secara Sembunyi
Berpura-pura melakukan kebaikan di tengah2 orang ramai dan gemar melakukan kemungkaran di belakang orang adalah dibenci Allah SWT.
Firman Allah SWT:  “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahsia yang Allah tidak redhai…”  (An-Nisa’: 108)

43. Menghalang Orang Daripada Mengamalkan Ajaran Islam

44. Menyuruh Yang Mungkar Dan Melarang Yang Makruf
Mereka (orang munafik) menginginkan agar perbuatan keji tersiar di kalangan orang2 beriman. Mereka menggembar-gemburkan tentang kemerdekaan wanita, persamaan hak, penanggalan hijab/jilbab. Mereka juga berusaha memasyarakatkan nyanyian dan konsert, menyebarkan majalah2 porno dan narkotik.

45. Suka Kepada Kesesatan Dan Suka Menyesatkan Orang

46. Berasa Gembira Apabila Musibah Menimpa Orang Beriman.
Orang munafik apabila mendengar berita bahawa seorang ulama yang soleh tertimpa suatu musibah, dia pun menyebarluaskan berita duka itu kepada masyarakat sambil menampakkan kesedihannya dan berkata: “Hanya Allahlah tempat memohon pertolongan. Kami telah mendengar bahawa si fulan telah tertimpa musibah begini dan begitu… semoga Allah memberi kesabaran kepada kami dan beliau.” Padahal, di dalam hatinya dia merasa senang dan bangga akan musibah itu.

47. Membuat kerosakan di muka bumi
Membuat kerosakan di muka bumi seperti menggondolkan hutan dan bukit bukau tanpa mengadakan perbaikan. 
Firman Allah SWT:  “Dan apabila dikatakan kepada mereka: janganlah kamu membuat kerosakan di muka bumi, mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan kebaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerosakan, tetapi mereka tidak sedar.”  (Al-Baqarah: 11-12)

48. Berputus Asa Dalam Menghadapi Cabaran Hidup

49. Keluh Kesah Apabila Ditimpa Musibah

50. Mengingkari Takdir Allah SWT
Orang munafik selalu membantah dan tidak redha dengan takdir Allah SWT. Sesungguhnya orang yang tidak dapat menerima kekalahan dan menolak, membenci atau mengingakari takdir Allah, tergolong dalam golongan kufur, rosak iman dan mendapat azab serta kemurkaan Allah SWT.
.
Ingatlah Allah SWT  berfirman dalamAl-Quran:

  الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُ‌ونَ بِالْمُنكَرِ‌ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُ‌وفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا اللَّـهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ﴿٦٧

“Orang-orang munafik lelaki dan perempuan, setengahnya adalah sama dengan setengahnya yang lain; mereka masing-masing menyuruh dengan perbuatan yang jahat, dan melarang dari perbuatan yang baik, dan mereka juga menggenggam tangannya. Mereka telah melupakan (tidak menghiraukan perintah) Allah dan Allah juga melupakan (tidak menghiraukan) mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu, merekalah orang-orang yang fasik.” (Surah At-Taubah, ayat 67)
.
.
والله أعلم بالصواب
Wallahu A’lam Bish Shawab
 (Hanya Allah Maha Mengetahui apa yang benar)

Isnin, 27 Oktober 2014

AMALAN SUNNAH DAN BIDAAH PADA BULAN MUHARRAM


Allah S.W.T dengan sifat-Nya yang Maha Pemurah (al-Rahmah) lagi Maha Penyayang (al-Rahman) telah menetapkan sesesetengah bulan itu memiliki keutamaan yang lebih berbanding dengan bulan-bulan yang lain agar Dia dapat memberi ganjaran yang lebih kepada hamba-hamba-Nya pada kadar-kadar masa yang tertentu itu. Di antara bulan yang dianggap istimewa itu adalah bulan Muharram yang merupakan bulan yang pertama dalam kalendar hijrah dan ia juga merupakan salah satu dari empat bulan-bulan haram yang penuh berkat. Firman-Nya:

Sesungguhnya bilangan bulan-bulan di sisi (hukum) Allah ialah dua belas bulan, (yang telah ditetapkan) dalam Kitab Allah semasa Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan yang dihormati. Ketetapan yang demikian itu ialah agama yang betul lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan yang dihormati itu (dengan melanggar larangan-Nya); dan perangilah kaum kafir musyrik seluruhnya sebagaimana mereka memerangi kamu seluruhnya; dan ketahuilah sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa. – al-Tawbah (9) : 36

Menerusi firman-Nya “maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan yang dihormati itu (dengan melanggar larangan-Nya)” ia menunjukkan bahawa pada bulan-bulan haram yang mana Muharram adalah salah satu darinya kita dilarang dari melakukan perbuatan-perbuatan yang terlarang kerana dosa melakukan kemungkaran pada bulan-bulan ini adalah lebih buruk balasannya daripada Allah S.W.T. berbanding dengan bulan-bulan yang lain. Namun begitu bagi mereka yang melakukan amal-amal yang soleh ganjaran pahalanya juga adalah lebih tinggi berbanding dengan bulan-bulan yang lain.

Jika firman-Nya di atas hanya menunjukkan terdapat empat bulan yang dihormati dalam setahun maka sabda Nabi s.a.w. ini memperincikan lagi tentang nama bulan-bulan tersebut:

إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ.


Sesungguhnya zaman itu akan terus berlalu sebagaimana saat Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan. Empat di antaranya ialah bulan-bulan yang haram, tiga di antaranya ialah berturut-turut, iaitu bulan-bulan Dzulqaedah, Dzulhijjah dan Muharram. Bulan Rejab adalah bulan Mudhar (nama satu kabilah) yang terletak di antara Jamadilakhir dan Sya’ban. – Hadis riwayat Imam al-Bukhari, no: 4662

Oleh itu hendaklah pada bulan Muharram yang mulia ini kita hindarkan diri dari melakukan amalan yang dilarang dan mempertingkatkan amal ibadah yang boleh mendekatkan diri kita kepada Allah S.W.T. terutamanya ibadah puasa. Ini adalah kerana Rasulullah s.a.w. telah bersabda:


أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ.


Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah bulan Allah al-Muharram dan sebaik-baik solat setelah solat fardhu adalah solat malam. – Hadis riwayat Imam Muslim, no: 1163.

Sabda baginda ‘Bulan Allah al-Muharram” menegaskan lagi betapa mulianya bulan Muharram ini. Oleh itu hendaklah kita bersungguh-sungguh untuk berpuasa sebanyak mungkin pada bulan Muharram ini. Namun ini tidak bermakna kita disyari’atkan untuk berpuasa sepanjang bulan Muharram ini kerana Rasulullah s.a.w. hanya berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan sahaja. Aisyah r.a berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ.

Aku sama sekali tidak pernah melihat Rasulullah s.a.w menyempurnakan puasa sebulan melainkan di bulan Ramadan dan aku tidak pernah melihatnya lebih banyak berpuasa melainkan pada bulan Sya’ban. – Hadis riwayat Imam al-Bukhari, no: 1969.

Pada bulan Muharram ini juga terdapat hari yang digelar sebagai Asyura iaitu hari di mana Nabi Musa a.s. dan pengikutnya diselamatkan oleh Allah S.W.T. dari tentera Fir’aun.


قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَالْيَهُودُ تَصُومُ عَاشُورَاءَ فَقَالُوا: هَذَا يَوْمٌ ظَهَرَ فِيهِ مُوسَى عَلَى فِرْعَوْنَ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لأَصْحَابِهِ أَنْتُمْ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصُومُوا.

Nabi s.a.w. datang ke Madinah, dan dilihatnya orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Menurut mereka: Ini hari baik di saat mana Allah membebaskan Nabi Musa dari Fir’aun. Maka sabda Nabi s.a.w.: “Kamu lebih berhak terhadap Musa daripada mereka maka berpuasalah. - Hadis riwayat Imam al-Bukhari, no: 4680.

Melalui hadis di atas ini juga dapat kita fahami bahawa amal ibadah khusus sempena hari Asyura yang diiktiraf oleh Rasulullah s.a.w. adalah ibadah puasa. Disunnahkan juga untuk menambahkan puasa pada hari Asyura tersebut dengan berpuasa sehari sebelum ataupun sehari sesudahnya. Rasulullah s.a.w. memerintahkan hal ini bertujuan untuk menyelisihi amalan orang Yahudi. Rasulullah s.a.w. bersabda:

صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا.


Berpuasalah kalian pada hari Asyura dan berselisihlah dengan orang Yahudi di dalamnya, dan berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya. – Hadis riwayat Imam Ahmad, no: 2047.



Kemunculan bulan Muharram sebagai bulan pertama bagi kalendar umat Islam sentiasa dihiasai dengan beberapa amal ibadah tertentu. Upacara-upacara tersebut bermula pada hari terakhir bulan Dzulhijjah iaitu diambang menjelangnya 1 Muharram. Umat Islam digalakkan untuk berpuasa pada hari terakhir bulan Dzulhijjah dan membaca doa akhir tahun selepas solat Asar. Seterusnya setelah menjelangnya 1 Muharram iaitu selepas solat Maghrib dibaca pula doa awal tahun, bacaan Surah Yassin, zikir-zikir tertentu malah ada juga yang mengerjakan solat sunat sempena 1 Muharram dan berpuasa pada siang harinya.

Sebenarnya kesemua amalan-amalan yang disebutkan di atas atau apa jua amalan sempena tibanya tahun baru hijrah tidak memilki dalil-dalil yang sah daripada Rasulullah s.a.w. bahkan para Imam-Imam mazhab seperti Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad r.h juga tidak pernah mengamalknnya. Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. tidak pernah menyambut kehadiran bulan Muharram atau kedatangan tahun baru dengan upacara yang tertentu. Kalendar Hijrah juga tidak wujud pada zaman Rasulullah kerana ianya hanya diperkenalkan pada zaman pemerintahan ‘Umar al-Khaththab r.a iaitu tujuh tahun setelah baginda wafat. ‘Umar yang memperkenalkan kalendar ini juga tidak pernah melakukan atau menganjurkan upacara terterntu sempena kedatangan tahun baru dan begitu juga para sahabat serta para al-Salafussoleh yang lain.

Adapun hadis-hadis yang dijadikan hujjah oleh golongan yang melakukan amalan tertentu sempena kedatangan tahun baru merupakan hadis-hadis lemah (dha’if) dan palsu (mawdhu’). Antara hadis-hadis tersebut adalah:

Daripada Ibn ‘Abbas, dia berkata: Telah bersabda Rasulullah s.a.w.: Barangsiapa berpuasa pada hari akhir bulan Zulhijjah dan hari pertama di bulan Muharam, maka sesungguhnya dia telah menghabiskan tahun yang lalu dan memulakan tahun baru dengan puasa yang Allah jadikannya sebagai penghapus dosanya lima puluh tahun”. Menurut Ibnul Jauzi di dalam al-Mawdhu’at bahawa hadis ini palsu (maudhu’)

Rasulullah s.a.w. bersabda: Barangsiapa berpuasa sembilan hari dari awal Muharram maka Allah membina untuknya sebuah kubah di udara yang luasnya satu batu persegi dan mempunyai empat buah pintu. Hadis ini adalah palsu (mawdhu’) menurut Ibnul Jauzi di dalam al-Mawdhu’aat dan Imam al-Suyuthi di dalam La’aali al-Mashnu’ah.

Setiap kali di ambang munculnya tahun hijrah yang baru seluruh media serta kebanyakan jabatan-jabatan atau majlis-majlis agama Islam di Malaysia menganjurkan untuk dibacakan bacaan doa akhir tahun dan doa awal tahun. Masjid-masjid diseluruh tanah air juga mengadakan upacara-upacara khas untuk membaca doa-doa awal dan akhir tahun itu. Lafaz doa tersebut adalah sepeti berikut:

Doa Akhir Tahun 

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Penyanyang, segala puji bagi Allah, Tuhan Pentadbir seluruh alam, Semoga Allah cucurkan rahmat dan sejahtera atas junjungan kami Nabi Muhammad s.a.w., serta keluarga dan sahabat-sahabat baginda sekalian. Ya Allah wahai Tuhan kami, perkara-perkara yang telah kami lakukan daripada perbuatan-perbuatan yang Engkau larang dalam tahun ini maka kami belum bertaubat daripadanya padahal Engkau tiada meredhainya dan Engkau memang tiada melupakannya (Tuhan tidak bersifat lupa) dan Engkau berlembut tiada mengazab kami malah memberi peluang supaya kami bertaubat selepas kami menceburkan diri melakukan maksiat itu. Maka kami sekalian memohon keampunan Mu. Ya Allah, ampunilah kami dan mana-mana perbuatan yang telah kami lakukan sepanjang tahun ini yang Engkau redhai dan yang telah Engkau janjikan ganjaran pahalanya. Maka kami mohon diperkenankan akan perbuatan (amal bakti) yang telah kami lakukan itu dan Engkau tidak menghampakan harapan kami. Ya Allah, Tuhan yang Maha Pemurah.

Doa ini hendaklah dibaca 3 kali pada akhirnya waktu Asar hari ke 29 atau 30 daripada bulan Dzulhijjah, maka barangsiapa membaca doa ini daripada waktu yang telah tersebut maka berkatalah syaitan kesusahanlah bagiku dan sia-sialah pekerjaanku pada setahun ini dibinasakan dengan satu saat jua dengan sebab membaca doa-doa ini maka diampuni Allah Ta’ala sekalian dosanya yang setahun ini.

Doa Awal Tahun
 
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Penyanyang, segala puji bagi Allah, Tuhan Pentadbir seluruh alam, Semoga Allah cucurkan rahmat dan sejahtera atas penghulu kami Nabi Muhammad s.a.w., serta keluarga dan sahabat-sahabat baginda sekalian. Ya Allah, Engkaulah Tuhan yang kekal selama-lamanya, sedia ada, tiada permulaan. Kelebihan Mu maha besar dan kemurahan Mu sangat-sangat diharapkan. Tibalah sudah tahun baru, kami mohon kepada Mu agar terpelihara kami sekalian di dalam tahun baru ini daripada tipu daya syaitan-syaitan yang terlaknat juga dari kuncu-kuncunya syaitan dan bala tenteranya. Dan kami mohon daripada Mu akan pertolongan mengalahkan runtunan nafsu amarah (nafsu yang mendorong kepada kejahatan). Kami mohon juga kepada Mu ya Allah akan rasa sedia ingin membuat kerja-kerja kebajikan yang boleh mendampingkan diri kami kepada Mu. Ya Allah Tuhan yang Maha Agung lagi Mulia. Ya Allah Tuhan yang sebaik-baik yang mengurniakan rahmat.

Doa awal tahun iaitu hendaklah dibaca 3 kali setelah solat Maghrib pada malam 1 haribulan Muharram dan barangsiapa membaca ini maka bahawasanya syaitan berkata telah amanlah anak adam ini daripada aku barang yang tinggal dari umurnya pada ini tahun kerana bahawasanya Allah Ta’ala telah mewakilkan dua malaikat memelihara akan dia daripada fitnah syaitan.

Pada hakikatnya kedua-dua lafaz doa ini serta fadhilat yang ditetapkan itu tidak pernah wujud dalam mana-mana kitab-kitab hadis dan tidak ada juga hadis walaupun yang bertaraf lemah (dha’if) mahupun palsu (mawdhu’) yang mengkhabarkan tentangnya. Menurut Syeikh Jamaluddin al-Qasimi r.h doa ini ialah doa yang direka dan tidak berasal daripada Nabi s.a.w. tidak juga berasal daripada para sahabat, tabi’in dan tidak diriwayatkan dalam musnad-musnad sehinggakan ianya tidak wujud dalam kitab maudhu’at (iaitu kitab yang memuatkan hadis-hadis palsu). Doa ini hanya dicipta oleh syeikh jadi-jadian. Dan perkataan “berkatalah syaitan kesusahanlah bagiku dan sia-sialah pekerjaanku pada setahun ini dibinasakan dengan satu saat jua dengan sebab membaca doa-doa ini” merupakan suatu pembohongan yang sangat besar ke atas Allah dan Rasul-Nya.

Tetapi sekiranya sesiapa yang hendak membacanya tanpa beri'tiqad seperti yang ada di dalam fadhilat yang direka tersebut silakan, kerana ia termasuk di dalam keumuman doa, dan perlu diingat tidak ada upacara khas atau dibaca beramai-ramai (untuk membaca doa tersebut).
Hendaklah kita sentiasa berdoa memohon keampunan daripada Allah S.W.T., memohon perlindungan dari hasutan syaitan, memohon perlindungan dari mengerjakan perbuatan maksiat dan memohon agar kita sentiasa terbuka hati untuk mengerjakan amal-amal soleh. Menetapkan doa-doa tertentu, dibaca pada waktu tertentu dengan fadhilat-fadhilat yang tertentu tanpa perintah daripada Allah dan Rasul-Nya merupakan satu perbuatan mencipta hukum syarak yang baru dan perbuatan ini adalah diharamkan. Firman-Nya:

Dan bahawa sesungguhnya inilah jalan-Ku (agama Islam) yang betul lurus, maka hendaklah kamu menurutnya; dan janganlah kamu menurut menurut jalan-jalan (yang lain dari Islam), kerana jalan-jalan (yang lain itu) mencerai-beraikan kamu dari jalan Allah, Dengan yang demikian itulah Allah perintahkan kamu, supaya kamu bertaqwa. – al-An’aam (6) : 153 
Selanjutnya Allah S.W.T. menegaskan lagi hal ini melalui firman-Nya:

Maka hadapkanlah dirimu ke arah agama yang jauh dari kesesatan; (turutlah terus) agama Allah, iaitu agama yang Allah menciptakan manusia (dengan keadaan bersedia dari semulajadinya-fitrah) untuk menerimanya; tidaklah patut ada sebarang perubahan pada ciptaan Allah itu; itulah agama yang betul lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. – al-Rum (30) : 30

Maksud melakukan perubahan terhadap ciptaan Allah dalam ayat di atas adalah mengubah agama Islam seperti menambah-nambah satu upacara ibadah yang tiada sandarannya dari al-Qur’an dan al-Sunnah iaitu dengan mengamalkan amalan bidaah seperti mengkhususkan amalan-amalan yang tertentu sempena kedatangan tahun baru hijrah. Adalah penting bagi kita untuk memastikan kesahihan sesuatu perkara berkaitan dengan amal ibadah sebelum kita mengamalkannya. Ini adalah kerana setiap amal ibadah yang tidak didirikan atas dalil-dalil yang sah maka ianya terbatal. Ini sebagaimana sabda Rasulullah:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ.

Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam urusan kami (iaitu di dalam perkara berkaitan agama) apa-apa yang tidak ada padanya, maka tertolaklah ia.” - Hadis riwayat Imam al-Bukhari, no: 2697
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.
Barangsiapa yang melakukan satu amal yang bukan dari suruhan kami (iaitu di dalam perkara berkaitan agama), maka tertolaklah ia. - Hadis riwayat Imam Muslim, no: 1718

Sekiranya sesuatu ibadah itu tidak wujud pada zaman Rasulullah s.a.w. seperti ibadah tertentu sempena kedatangan bulan Muharram ini pada hakikatnya ia bukan sebahagian dari agama pada masa itu. Sekira ianya bukan sebahagian dari agama pada zaman Rasulullah s.a.w. maka sehingga kini ibadah itu juga dianggap tidak termasuk sebahagian dari Islam. Imam Malik r.h berkata:

Sesiapa yang membuat bidaah dalam Islam dan menganggapnya baik (hasanah) maka dia telah mendakwa Muhammad s.a.w. mengkhianati risalah. Ini kerana Allah telah berfirman:

Pada hari ini aku telah sempurnakan agama kamu. - al-Maaidah (5) : 3

Apa yang pada hari tersebut bukan sebahagian dari agama, maka ia tidak menjadi sebahagian dari agama pada hari ini. – Diriwayatkan oleh Imam al-Syathibi di dalam al-I’tishom, jilid 1, ms. 49.